HEADLINE

BELAJAR PUISI



Di beranda hidup, kau tulis status mati
kelebat hasrat, bersijingkat seperti langkah angin
tertinggal dari kawanannya-

impian patah berkali kali
pun bayangan kekanak yang berenang
bukan ke tengah laut
tetapi pada genang air setinggi lutut
setinggi kemungkinan yang selalu gagal diutarakan.

Menutup diri, adalah tugas kita, saat ini!
dari kelebat pintu yang menunggu banyak orang masuk
dari lalulalang yang senantiasa tumbang
oleh banyak keletihan
oleh banyak rasa muak, aku, melihatmu retak berulang ulang
(bahkan jauh sebelum menjadi utuh)

Sepertinya kita dalam perjalanan keruh sungai
yang mengalir ke tulang tulang dada
belajar banyak puisi, belajar memanjat pohon
atau menyulam legam temaram.

Maka-

ketika siang padam
kata kata ini cuma melumat sisa sisa senja saja
sisa sisa kenangan pada perempuan yang pernah berkali kali membuatmu jadi api
jadi abu
jadi debu
lalu jadi nama nama tugu.

Ketika daun daun layu
periksalah dirimu sekali lagi, bola matamu yang pucat itu
di tembok sesak decak cicak, di langit langit kamar, di jerit kalimat sekarat
(di garis tepi nasib ketika kita selalu menolak disebut 'penyajak')

Banten 2018


(R. Bintang Untuk Seseorang)

Tidak ada komentar