HEADLINE

Cerpen R. Bintang_IKUT LOMBA NULIS PUISI (Dimuat Simalaba, 17-06-2018)



Pintu di ketuk, seorang lelaki masuk. Bahkan kalimat salam belum sempat kujawab. Tak aneh. Ini gaya seorang lelaki di kampung kami ini, namanya Aan Hidayat. Rambutnya panjang sebahu. Meski agak tipis tetapi dipaksa menutupi wajahnya agar terkesan semraut ala seniman, alias 'PENYAIR'. Maklum, lelaki ini lagi deman syair atau sajak.

"Bau sekali badan kau ini, kak." Kataku sebagai sambutan atas kedatangannya. Tapi dengan logat bercanda.

"Eit, itu sengaja. Bukankah seorang seniman itu jarang mandi, kau tau itu, kan?"

"Hah..?!"

"Nah, kurang wawasan, kau." Ia menunjuk mukaku, nadanya serius lagi.

"Kok, bisa, toh kak! Seniman jarang mandi itu rumus dari mana? Aku belum pernah dengar."

Ia mengusek-usek rambutnya lalu di banting ke bagian belakang sehingga wajahnya lebih terlihat jelas. Dan, ia mendekat.

"Event nasional itu, kau udah kirim naskah belum?"

"Yang mana?"

"Yang di Provinsi Sumatera Tenggara itu, yang temanya tentang panorama Pantai Tepalit itu, lho.."

"Oh, itu, bukankah dedlinenya masih lama?"

"Ay, kau ini. Tiga hari lagi. Wah, kacau ini, kacau kawan ini. Gimana kelompok kita mau dikenal bila macam gini. Aku tanya Titin, belum. Febriani belum. Yulya, apalagi. Nanang, Sarjuli, Kiki, Siska, R Tia, kacau semua! Kalo kita loyo model gini gimana kita bisa dikenal publik, bung. Ayo semangatlah, kita gemakan nama kampung ini hingga dikenal dunia agar dunia tau kalo di sini ada seniman seniman yang sedang berproses jadi besar. Iya, tak?"

Saya cuma diam. Tak ingin menanggapi bila orang yang gila puisi ini sedang meletup letup. Ia tak mau kalah kalo udah bicara soal dunia seni, semua orang di kampung ini tau, bahkan sudah pada maklum.

Sebenarnya, kedian ini baru dua tahun belakangan, semacam virus yang melanda beberapa anak muda kampung kami. Mereka keranjingan nulis puisi. Atau bahasa kerennya 'Nyajak'. Setiap bertemu orang orang yang tadi kumaksud pasti bicaranya soal seni, seni, seni dan seni. Bahkan menurut cerita tetangganya, Nanang, salah satu dari teman kami juga pernah kesurupan baca puisi. Ia nekad naik ke atap rumahnya lalu teriak teriak kencang membacakan beberapa judul puisi. Tentu saja aksi Nanang ini menimbulkan keanehan warga satu er-te, sontak semua orang keluar rumah mulai dari anak anak hingga yang sudah tua renta, lelaki dan perempuan, janda maupun duda semua terkaget kaget melihat pertunjukan baca puisi di atap rumah tengah hari.

Puisi harus dihayati
puisi mesti disampaikan
pada banyak jiwa yang tandus
agar turun hujan, agar menari
rumput-rumput di ladang
setelah kata-kataku beterbangan
mencelat ke udara
kejujuran ini menusukmu dengan bahasa hujan..

.........

Tetapi karena telah dilakukan berulang ulang aksi Nanang lama kelamaan meresahkan warga. Terlebih setelah ada seorang bayi yang sawan, menangis kencang sekali karena ketakutan mendengar ada yang teriak teriak di atap rumah. Warga bergantian merayu anak muda teman kami ini agar membaca puisi di pos ronda saja, lebih hikmat dan lebih bisa disimak warga.

Setelah melalui proses negosiasi yang panjang dan semua aparat kampung, termasuk Babinsa dan Kapolsek, ikut membujuk Nanang, akhirnya teman kami ini setuju. Ia tak lagi memanjat atap, tetapi berganti wilayah, nyeni di pos ronda. Sesekali ia membacakan puisinya di Posyandu atau di lokasi ibu ibu ngocok arisan. Hebat benar teman kami ini.

*****

Sama seperti Aan, Nanang juga gondrong, baju dan celana jeansnya sengaja dibikin kumal agar terkesan bergaya seniman pekerja. Mantab.

Tetapi karakter kedua teman kami ini belum ada apa-apanya bila dibanding dengan teman kami yang satu lagi, dia lebih nyentrik. Namanya Sungkawa. Jaket andalannya sengaja digunting berumbai rumbai, agar terkesan unik, rambutnya dibiarkan panjang bagian belakang hingga sepinggang tetapi di bagian depan ia papas habis, nyaris gundul, beda beda tipis dengan gaya rambut pemeran film kungfu soulin. Cuma yang ini bukan pendekar kungfu tetapi, menurut pengakuannya, ia adalah seniman yang begitu menjiwai seni. Kelebihan lainnya dari teman kami yang bernama Sungkawa ini adalah, ia memiliki sebuah labtop butut merk Kacus, selalu tersimpan dalam tas ranselnya dibawa kesana kemari. Ia mengetahui sedikit kemampuan mengetik naskah di komputer dan men-save karya karyanya, ketimbang si Aan dan Nanang masih menulis serta mengabadikan karya karya dalam buku tulis merk Bigboss, bahkan ada puisi Aan yang disimpan di belakang kertas kalender.

Setiap bertemu orang, Sungkawa selalu bilang, "Salam Sastra, Salam Literasi, bung!"

Tak peduli siapa yang ia temui. Entah itu tukang cendol pinggir jalan, tukang kerja bangunan, tukang semir sepatu, tukang pijat urut, tukang bakso, tukang servis tv siapapun yang bertemu atau berjabat tangan dengannya, teman kami ini terus meneriakkan "Salam Sastra.."

*****

Hari ini beda dengan biasanya. Langit lengang. Ruangan rumah saya seperti gersang sebab diisi oleh muka muka tegang. Alias serius. Topik obrolan tak lain dan tak bukan sedang berdiskusi tentang sebuah event LOMBA MENULIS PUISI yang diadakan salah satu dewan kesenian di Sumatera Tenggara.

"Gimana ini, kawan kawan? DL-nya tinggal dua hari lagi." Sungkawa mengawali. Kebetulan ia yang paling gelisah. Maklumlah, ia yang didaulat oleh kami semua menjadi ketua komunitas seni di kampung ini, sebuah komunitas sastra petani, komunitas kelas pinggiran.

"Siapa aja yang udah kirim naskah?"

"Maaf, saya belum." Yulya, jawab paling duluan. Seperti orang ketakutan abis dikejar maling. Perempuan teman kami satu ini karakternya emang gampang takut, apa apa dia bikin takut. Tak heran puisi dan Cerpen yang ditulisnya rata rata bertema tentang rasa takut.

"Saya sudah," Titin sumringah. Dia dikenal dengan sebutan 'Penyair Typo'. Kalo nulis apa saja pasti banyak kalimat typo, alias salah huruf. Tetapi diam diam semangat nyeninya tinggi. Saking tingginya, Titin lebih mencintai seni dari pada suaminya, ini yang kemudian membuat suaminya kabur dari rumah tak lagi pulang lantaran cemburu buta. Bukan pada selingkuhan istrinya tapi pada Cerpen dan sajak yang Titin tulis. Lelaki itu merasa putus asa karena kurang diperhatikan lalu kemudian merantau ke Arab.

"Saya, eemmmm, baru satu judul. Syaratnya harus tiga, ya? Jadi kurang dua judul lagi.." Febriani mukanya gelisah. Bahkan sangat terlihat gelisah, entah apa pula yang digelisahkan perempuan teman kami yang satu ini.

"Ayolah teman teman, semangat!" Biasa, Aan. Sang motifator.

"Sarjuli, mana?" R Tia pura pura mengalihkan tofik, padahal untuk ngeles, karena dia belum membuat satu judulpun untuk event ini.

"Sarjuli, ia sedang tak enak badan!" Giliran saya yang bicara. Singkat.

"Jujur, saya tak akan ikut event ini." Nanang angkat bicara.

Aan mendekat. "Ada apa dengan dirimu, bung? Kenapa kau tak ikut?"

"Saya ndak mau!" Nanang logat jawa. Kental.

"Ya, kenapa sebab, kawan?" Sungkawa penasaran. Ikut mendekat pada Nanang. Satu seniman gondrong, duduknya diapit dua seniman gondrong lainnya. Kami mengamati dari tempat duduk masing masing. Semua mata tertuju pada Nanang. Suasana inilah yang tadi saya maksud tegang itu.

"Jadi gini," Aan kian serius, "Saya dan Kang Sungkawa, Titin, udah beres. Naskah udah melayang dibawa terbang elektronik mail menuju panitia. Saya ingin berkata, dirimu, Nang, salah satu yang akan kami andalkan untuk menjuarai event ini. Pertimbangannya, karena karya karyamu itu, wah! Bagus bagus betul. Saya kagum."

"Tidak cuma itu," Sungkawa memotong Aan, padahal argumen sang motifator ini masih panjang. "Karya Nanang ini saya nilai paling berisi. Muatan seninya sangat terasa seperti cokelat shilverquin, medok dan lezat. Kawan kawan semua di sini perlu saya beritahu bahwa karya teman kita Nanang sangat menjanjikan. Ia menulis dengan sepenuh jiwa, dengan pengkhayatan tinggi dengan pengolahan diksi dan metafor yang tidak sembarangan. Dan, jangan lupa, Nanang paling jujur dalam berkarya. Ia menulis apa yang dilihat-rasakannya, betul betul jujur."

"Justru itu saya ndak ikut event ini!"

Kami semua diam. Menunggu argumen Nanang.

"Kawan kawan semua, sadarlah, puisi itu berbeda dengan Cerpen yang narasinya fiktip, alias ngarang, alias menokohkan subjek sekaligus objek yang dibuat sesuka suka senimannya. Tetapi tidak dengan puisi. Puisi tidak boleh mengada-ada, ia mesti jujur, boleh menggunakan kiasan tetapi hasrat yang akan dikemukakan mesti fokus."

Semua masih diam. Ruang tamu rumahku bersitumpu pada satu titik, kata kata Nanang.

"Saya ndak mau ikut event-event semacam ini sebab akan merusak kaidah seni yang telah mengalir dengan begitu deras dalam urat urat nadi saya. Kenapa? Karena ini telah melatih saya berlaku tak jujur dalam menulis. Kawan kawan pikir saja, kita dipaksa oleh pantia menulis puisi dengan tema sudah ditentukan, yakni, PANORAMA PANTAI TEPALIT. Pertanyaan saya, apa kawan kawan tau itu pantai seperti apa? Apa pernah ke sana? Apa pernah merasakan iklim serta kultur masyarakat di sana?"

"Saya pernah ke sana?" Titin nyeplos.

"Kapan?" Nanang mengejar.

"Kemarin,"

"Lewat mana?"

"Lewat Mbah Google.." Titin malu malu kambing.

"Nah, inilah yang saya maksud tak jujur itu."

Semua tertunduk. Tapi yang paling nunduk Aan dan Sungkawa.

"Event event semacam ini pasti akan menghasilkan kumpulan karya anak bangsa yang tak jujur. Semua karya yang dikirim tema dan esensi penggarapan tema pasti akan meleset, kecuali karya seniman lokal di sana. Semua peserta dari seluruh penjuru tanah air saya pastikan akan mengirimkan karya yang ditulis menggunakan jurus mabok, alias asal-asalan, alias kebut tema alias kejar target. Baca sedikit di google terus tulis, terus kirim. Ini celaka buat dunia literasi kita. Event event berlabel nasional bahkan Asia tetapi karya yang terkumpul bukan karya yang totalitas bukan karya penjiwa-an tetapi karya karya domplengan. Saya ndak setuju. Saya ndak mau ikut."

Semua di ruangan ini garuk garuk kepala tak gatal. Sungkawa dan Aan seperti abis disiram kuah sambal. Gelisah tapi kehabisan kata kata. Titin malah berpikir untuk menarik lagi naskahnya. Febriani, yulya, R Tia, Siska, Kiki, termasuk saya senyum senyum kecut. Kesenengan sebab memang belum ngirim naskah, saya pribadi belum sejudulpun yang ditulis untuk event ini. Padahal ketua dan wakil ketua mewajibkan semua anggota komunitas agar menyerbu event-event sastra yang bermutu, yang dikuratori oleh para sastrawan ternama, bukan dikuratori oleh orang orang yang tak jelas.

Jujur saya tak enak sama Sungkawa dan Aan sebagai ketua dan wakil ketua kami. Merekalah yang paling berapiapi memotifasi kelompok sastra kampung ini. Saya sendiri berpendapat, biarlah yang mau ikut, ya ikut. Hitung hitung ajang latihan saja. Tapi benar kata Nanang, jangan harap event semacam ini bisa membukukan karya yang jujur, apalagi bermutu. Mustahil.

Sudut Bumi, 18 Juni 2018

Tentang Penulis

Nama: R Bintang. Ia menulis Cerpen dan telah dipublikasikan di sejumlah media.

Tidak ada komentar