HEADLINE

HAKIKAT KATA MIRIP PUISI


Ia melumurinya dengan darah tanah darah angkasa, dan darah tergenang langit rindang. Sebelum disemat ke celah kalimat, dengan pongah, ia daulat; ini puisi. Ini sedikit totalitas atas keyakinan paling curam sekaligus juga penebusan atas kesilaman terjungkal di aspal. Dilindas banyak kaki. Banyak mata dan jiwa lalu lalang tetapi kata kata terlanjur dihakimi oleh rasa ketakutan yang besar di katub jiwa yang sebenarnya hambar.

Hingga saat ini, tetapi, ia belum pernah menyebut diri "Penyajak" atau peredam gejolak birahi angkasa, birahi laut, sedikit hasrat menyelam. Tetapi sebenarnya, ia, tak ingin berendam! Apalagi menyelam. Membuat diri mabuk laut mabuk darat mabuk mimpi membatu, di gigir ini kata kata lurus ke depan menancap di dahan-dahan, menghentak daun daun agar gugur sebelum waktunya.

Padahal, ia, cuma kata yang mirip puisi seperti genangan laut, selutut. Sekelumit permainan pikiran yang belum berhenti dari amuk jiwanya, tak terstruktur dengan baik. Juga, hingga kini, belum pernah dihinggapi hasrat yang baik. Ia, kemudian pasrah setelah gagal jadi puisi, sebab cuma sekelumit perasaan ombak yang belum pernah dapat dipahami.

2018

(R. Bintang Untuk Seseorang)

Tidak ada komentar