HEADLINE

Kepada 'PENULIS PUISI PALPEL'_Oleh: R. Bintang



Sejak gagal jadi 'penyajak' ia keluyuran di jalan jalan gelap. Dan, bilang, "Gelap ini tak adil, sejak bintik cahaya dihimpitnya, tak ada lagi sisa harap. Sisa kemungkinan terhisap ke celah pikiranku yang gagap!"

Lalu-

Di hari libur, puisi tersungkur, lesu di pembaringan. Membaringkan segalanya. Membaringkan sinyal yang bebal, jaringan wifi yang terganggu, beberapa huruf terkatup pada notebook tak dapat ditekan sebab gagal tampil pada layar inspirasi hari ini.

Inikah yang selanjutnya kausebut inspirasi? Mata yang buta, hati berdebu, baru sebulan bersajak angannya melompat ke langit, tiba di langit ingin membuat rumah di punggung bintang merasa tenang dan mengukir kembali riwayat bumi dari atas sini. Itu mimpi.

Dalam mimpi, engkau bertemu seseorang, yang menyapamu dengan halus. Mengisyaratkan jalan ke sajak. Sejak engkau dalam salah sangka besar dalam kekeliruan menebak arah kata kata. Orang itu, paham benar, bila dirimu kronis, bila dirimu hijau. Sehijau langau. Sepucat bulan kesingan. Tetapi jati diri sekuat apa pun disembunyikan tetap tertangkap oleh pandangan, tentu pandangan yang sudah biasa memahami luka memahami mendung menggelantung di langit linglung memahami gerimis yang menderas jadi hujan memahami rumput-rumput tersesat tumbuh di batu memahami hikayat siang dan malam memahami dentang jantung yang limbung memahami muasal sunyi memahami seberangmu dan seberangku memahami jalanan menikung menuju arah lain menuju kemungkinan lain menuju lorong lorong berlumut menuju rumah kata kata menuju sekawanan manusia yang telah bereinkarnasi menjadi hamba pasar.

Engkau, kemudian, mendaulat diri sebagai 'kalimat pembenaran' atas pilihan pilihan (yang sebenarnya) belum pernah begitu jauh kaupahami, apalagi kausetubuhi. Engkau, kemudian, asyik berjalan pada gang gang kumal sebuah kota yang telah lama ditinggalkan oleh para penghuninya ditinggalkan dentam kehidupan orang orang yang hijrah ke kota lain. Ke tempat yang begitu banyak menjanjikan udara yang lebih dingin.

Dalam dingin ini dirimu lalu menggigil dengan gigil yang sangat dalam ketinggalan mencoba memainkan romansanya, terlahir dari rahim ketakutan yang diledakkan. Menbahana. Mengajarimu cara pergi ke sebuah tempat untuk menyesali diri. Saat itulah engkau menemukan dirimu yang sesungguhnya cuma sebuah bayangan buram itu memantul dari sebuah kolam, tempat ikan ikan kecil (juga sedang mimpi) melukis jalan ke danau, atau jeram sungai memukul batu batu memukul akar akar pohon memukul kesunyian dengan kecipaknya yang bersautan. Dalam dingin ini engkau meraba raba denyar yang terlambat engkau rasakan datangnya sehingga waktu meludahi wajahmu dengan polusi peradaban.

Maka-

Tulislah sebanyak banyaknya bait puisi palpel itu agar aroma tubuhmu tercium lekat oleh sekawanan lalat yang menggugat keranjang sampah, agar udara di sekelilingmu terbakar, dan semua terkubur dalam hikayat sia sia.

(R. Bintang, untuk sejumlah orang)

Tidak ada komentar