HEADLINE

THR ASN DAN SECANGKIR QUICK COFFE MALAM HARI


Lepas atas pengamatan semesta, ketika pintu pintu kaca kantor sebuah perbankan berplat merah penuh sesak, tumplak, oleh desakan para pengantri. Hari itu. Di tanggal enam juga di bulan enam ketika setiap harap tertumpu pada sebuah titik yang bernama 'penantian'. Ya, penantian yang tak sengaja, sebenarnya. Penantian yang tersemat dalam catatan tak karuan dalam hening yang dibungkus berisik dalam degub jantung pengelana yang tengah melanglangtualang dalam denyar dikejar waktu.

Tetapi waktu hari ini menunggunya, bahkan begitu bersahabat terhadapnya. Waktu yang merupa gadis cantik bernama Silvy yang tersenyum begitu manis yang berkedip kadang menunduk yang memendam sesuatu di balik dadanya, tetapi entah setiap degupnya milik siapa? Tetapi tak perlulah kau tau siapa pemilik siapa sebab yang terpenting hari ini waktu begitu ramah begitu sahaja begitu manis dan begitu menggetarkan. Waktu atau juga gadis cantik bernama Silvy adalah riuh yang mendekat adalah igauan yang melelehkan. Ya, Silvy, yang sepanjang hari ini dihujam berpasang pasang mata para bendahara pemburu te-ha-er itu.


Ia, belum juga senyap, ketika hari bersijingkat menuju petang dan akhirnya berganti pula malam. Siang kemarin, yang ditunggu telah pulang ke sarang, cuma menyisakan sebuah catatan bila hidup tak kan pernah menemui kata cukup, pun untuk perkara ini setelah Silvy mensallarykannya ke seluruh penjuru cek yang berbekas adalah hari esok runtuh pada bulan bulan lain menguap jadi ketidak-tahuan sebagian besar umat yang menerimanya perihal dari mana muasal ceritanya. Silvy, maafkan, untuk kisah yang satir ini aku telah meminjam namamu dan sedikit bayangan senyumu.

Baiklah, setelah te-ha-er itu tumpah, secangkir Quick Coffe juga enyah dihantam asap mild avolution yang terus bergerak. Saya bukan seorang bendahara tetapi sedikit bisa meminjam perasaannya.

Begini, pernahkah orang orang berpikir kemana kemudian THR-THR itu akan menguap? Ke toko baju? Ya, mungkin sedikit! Ke mall mall? Bisa jadi. Ke tiket pesawat, pom bensin, toko ponsel, cafe cafe! Hai, kalo tidak ke semua itu, lalu ke mana lagi. Tetapi yang jelas anda mungkin belum begitu benderang akan kemana tema tulisan ini sebenarnya saya alamatkan. Sebenarnya, saya ingin berkata, "Di balik wajah seorang lelaki yang berwibawa, banyak tersimpan panorama. Tetapi bukan panorama alam melainkan sebuah panorama yang sintetis!" 


Berbicara tentang sebuah produk yang sintetis, tentu tidak bisa kita melupakan suatu persenyawaan dan reaksi kimia. Reaksi antar atom yang merupa molekul reaksi antar molekul yang membentuk senyawa reaksi antar senyawa yang membentuk produk dan produk tersebut pendiam (pasti tidak akan seramah senyumnya Silvy) maaf ya, Sil, sekali lagi saya pinjam namamu. Selanjutnya, sintetis itu sebenarnya adalah sesuatu yang dibuat-buat alias diada-adakan atawa 'dipaksa menjadi ada'. Sebagai contoh untuk konteks ini tidak ada anggaran tapi tarif dipaksa jadi naik yang memaksa pergeseran anggaran kas (Angkas) hampir di seluruh daerah di negeri ini mencelat, bahkan pada nominal yang signifikan. Oke, secara pribadi, saya kadangkala menyukai tarif yang naik apalagi tarif untuk uang saku bulanan saya tetapi yang sedikit saya kurang suka adalah mekanismenya yang kurang dewasa. Demikian, kritikan saya pada seorang penjual mie ayam di samping kontrakan, "Mang, kalo mau naikin harga mie ayam sebaiknya jangan dadakan, setahun lagi mau dinaikin coba lebih dulu bikin pengumuman. Bikin merk atau tulis pada kardus, tempel di gerobakmu tulisan, TAHUN DEPAN MIE AYAM DI GEROBAK INI NAIK HARAP PEMBELI JANGAN KAGET, APALAGI PINGSAN..!"

Esok hari pintu kaca kantor kantor tempat mencairkan uang mungkin mulai sepi. Ada orang orang yang tersenyum. Ada juga yang masih tetap bingung meski sudah dapat muntahan te-ha-er, ya, maklum saja, hidup ini bukan untuk menggambar sebuah kata  kata cukup tetapi untuk menguburkan rasa yang semraut dan selalu gugup. Sekian.

(Penulis adalah seorang pecinta puisi, meski baru beberapa hari belajar berpuisi, selebihnya ia bekerja sebagai kuli di sebuah gudang kata kata)



Tidak ada komentar