HEADLINE

AKU MENCINTAIMU DENGAN CINTA YANG SEDERHANA SAJA_Cerita Amat Pendek (Cerampen)

(fotto oleh: www.remangbintang.com)

Penulis: R. Bintang

"Duduklah di sampingku, Adik, akan kujelaskan kepadamu hakikat dari sebuah cinta. Tentunya cinta yang sederhana saja. Seperti kesederhanaan bola matamu itu. Memandang ke depan, pada setapak jalan, pada hari hari yang turun ke aspal digilas roda waktu ditikam kerikil ngilu."

"Di sampingmu, aku merasa nyaman. Bahkan tak ada yang lebih nyaman dari ini, dari semua yang tersaji di sini, lebih jauhlah, Kakak, bercerita tentang cinta yang terlanjur terjebak di dada kita.."

"Adik, taukah, dirimu? Sebenarnya cinta itu adalah sekelumit hasrat yang gamang. Berawal dari sebuah pertemuan yang ganjil, perjalanan yang belum pernah kita rencanakan sebab kita tidak akan pernah ada untuk merencanakan suatu keajaiban. Dan, keajaiban itu pecah di cakrawala, kadang turun kebumi merupa gerimis."

"Kakak, sesuai komitmentmu, bisakah engkau sederhanakan lagi ucapanmu itu!"

"Ahai, Adik, cinta itu sebenarnya adalah gerimis itu sendiri. Menyirami kita yang debu ini. Agar tak panik menatap tubuh kita masing masing menjadi tempat jejak matahari hinggap dan mengendap, terhisap ke balik tubuh kita yang cokelat. Ya, tubuh kita ini cokelat warnanya, seperti warna debu bahkan kita lebih pekat dari debu sebab berwaktu-waktu berhari-hari bermusim-musim terhampar di pijar matahari..."

"Kakak...!?"

"Jadi begini, Adik! Saat kita berangkat ke bumi cokelat ini, seperti warna tubuh kita ini, cinta telah menaungi kita sejak lama. Ia, cinta itu, menjadi helai helai sepi menjadi sepoi angin menjadi untaian kangen yang runcing menjadi hasrat hasrat mengelana ke sebuah tempat jauh menjadi derap sayap mengepak di luas udara menjadi nyanyian-nyanyian syahdu menjadi kedap kedip lampu yang nyala di perut sepasang kunang kunang menjadi liuk tarian dinamis gerimis menjadi romansa pepucuk daun dan embun yang lamun menjadi kenangan yang meledak di hulu jantungmu dan jantungku menjadi denyar membakar setiap pembuluh darah hingga bagian paling dalam dari kantung-kantung kromosom. Taukah pula, dirimu? Bahwa saat memanjang maka kromosom-kromosom itu menjelma rumah bagi genetik kita sebagai rumpun awal kehidupan ini berbentuk menjadi kutuk hingga terus menemukan pola dari suatu kedinamisan. Nah, kedinamisan itu ada dalam sel-sel tubuh paling jauh, dalam inti sel-sel itu terdapat kromatin, di kantung kromatin itu terdapat gen, dalam gen itu terdapat genetik dan di sinilah muasal cinta kemudian ditetaskan."

"Kakak, ayolah..?!"

"Jadi begini, Adik. Cinta adalah sebuah sel paling dasar yang menopang tubuh kita. Bahkan menopang jagad semesta ini. Sebab sejak pertama cinta itu disebut orang, sejak saat itu pula jagad ini berpenghuni, sehingga orang membawa cinta itu pergi ke mana saja, tinggal dimana saja, berenang menyeberang dari tepi ke tepi mana saja dari mimpi ke mimpi bahkan juga cinta itu pernah memercik jadi api membakar banyak nanar kata kata menjadi kelebat bayang dan abu kesilaman yang sebagiannya selalu saja disembunyikan orang orang ke balik jasad masa lalu yang ngilu, begitulah, Adik,"

"Engkau belum mengatakan hakikat sederhana itu..."

"Oh, Adik, kejarlah aku dengan pertanyaanmu lebih jauh lagi."

"Tidak!"

"Kenapa?"

"Aku ingin, dirimu menyederhanakan ucapanmu!"

"Tetapi cinta yang telah kusampaikan padamu itu sungguh sederhana, Adik!"

"Sesederhana apa?"

"Sesederhana bisa yang mencelat di balik kepala ular. Yang meluncur dari runcing..."

"Stop...!! Kakak, tolonglah.."

"Baiklah, Adik. Akan kujelaskan. Aku mencintaimu sangat sederhana sekali, tersebab karena nafsu yang mengembang  tersembunyi, di bawah kedua ketiakku ini. Itu saja. Aku berbohong bila mengikuti orang orang palpel itu, yang berpura pura mengatakan bila ketulusan cinta itu telah membawa kelebat bayanganmu kepadaku dengan seperangkat kesejatian. Sebab, sejatinya, kita ini terlahir sebagai racun, Adik."

"Racun?"

"Racun yang membuat kita jadi pemabuk yang amuk, lalu terpaksa saling mencintai."

"Kakak, bisakah dirimu menjadi gerimis seperti yang pernah engkau kisahkan di awal awal hikayat cinta itu..?"

"Bisa...adik.."

"Kapan?"

"Setelah tubuhku menjadi lunak,"

"Saat itu Kakak akan menyirami tubuhku yang debu ini. Dengan siraman yang tipis saja, dengan sentuhan basah yang memang tak sederas hujan dengan tikaman yang lembut saja. Kakak, aku ingin tetap menjadi debu, mengitari jalan-jalan bersetapak mengitari jagad sempoyongan yang bau matahari ini menunggumu datang sebagai butir butir air meniti tubuhku dengan selaksa perasaan kangen yang telah engkau sederhanakan jadi debar jadi alunan jadi ritme kata kata jadi muasal perasaan menelusup ke hulu jantung kita pelan pelan."

"Adik, kau benar benar ingin agar aku selamanya menjadi gerimis yang kecil itu?"

"Iya, Kakak..."

"Baiklah, Adik."

"Sementara aku cukuplah sebagai debu. Siramlah tubuhku yang debu ini dengan tubuhmu yang gerimis itu. Saat inilah aku akan mencintaimu sebaliknya dengan cinta yang sangat sederhana. Sesederhana gerimismu yang menyiram debuku."

Banten, 13 Juli 2018

Tidak ada komentar