HEADLINE

DULU AKU PENGHUNI RUMAH INI


Penulis: R. Bintang

Aku pernah tinggal di sini. Di rumah ini. Untuk sembunyi. Sembunyi dari hasrat hasrat bumi dari rasa ganjen yang begitu besar pada dunia (meski akhirnya aku kembali juga). Di rumah ini aku merasakan keteduhan yang nikmat, jalan pikiran mengalir di sungai kecil berbatu-batu, airnya jernih dan masih menyimpan banyak udang.

Ya, sungai kecil bagian hulu, tak jauh dari rumah ini. Cuma beberapa puluh meter saja melangkah ke celah-celah tebing, warna sungai itu bening, bahkan teramat bening. Di sini aku sering berkaca memandang wajahku, sebelum membasuh wajahku agar debu-debu tersingkir, agar aku dapat terus berpikir, atau lebih tepatnya menajamkan kembali pola pikir.

Pada teman teman yang mampir, aku pernah berkata, "Surut, bukan berarti mudur, sebab surut untuk mempersiapkan pasang yang lebih besar.."

Orang orang itu ada yang bilang, "Kau, sarjana bodoh, sarjana gagal, sarjana tai..!"

Aku cuma tersenyum menanggapi mereka yang saat itu meragukan aku. Ya, saat itu, aku memang sedang pantas diragukan: rambut gondrong, badan kumal, tak ada wibawa. Orang orang cuma mengenalku saat itu sebagai peternak bebek, ayam, kambing, kelinci dan peternak keraguan yang membadai.

Suatu hari, pasca dikancar naning tanah (digigit tawon) aku termenung. Bahkan demam hingga tiga hari. Dalam demam aku menangkap sinyal yang dikirimkan tuhan agar kembali merantau, meninggalkan rumah ini, menuju medan berat yang pernah aku tinggalkan. Aku harus memeriksa lagi tiang-tiang pelabuhan. Memeriksa laut dan mengibarkan lagi pelayaran. Kembali pada dunia yang penuh strategi, aku memang dituntut untuk menjadi seorang ahli strategi.

Rumah ini. Aku menyimpan gambarnya. Selalu mengingatnya, sekaligus mengingat ketenangan yang pernah aku dapatkan, di rumah ini, saat aku menjadi seorang penyendiri.

Banten, 14 Juli 2018



Tidak ada komentar