HEADLINE

HIKAYAT PALPEL DAN BULU BULU DI MUSIM KEMARAU


"Hari mulai kemarau, Kakak. Kemasi hidupmu, juga palpelmu." Kata perempuan itu pada lelaki yang batal ia sebut sebagai kekasih.

"Baik, Adik. Aku juga akan mengemasimu agar selalu rapi dalam lipatan dadaku. Dalam setiap ingatan, saat diam maupun temaram aku (mungkin) orang yang lebih dulu pergi sebelum kemarau ini meminangmu ke ranah dingin ke sebuah tempat berbaring agar mimpi-mimpimu juga turut berbaring."

"Tidak. Kakak tidak boleh pergi. Kakak mesti tetap berada di tempat ini, kita terbakar sama sama."

"Tapi.."

"Engkau adalah palpel, meski aku selalu gagal menghapal jasadmu sebagai kekasih! Sebab jasadmu itu serupa ruh yang selalu menyelinap ke tempat gelap mengalir ke sisi lain hidupku yang tak pernah menyimpan denyar perasaan di tempat itu. Gelombang angin yang membawa berita pahit khabar khabar duka hikayat terlunta dari sekelumit perasaan yang pernah begitu rawan. Kakak, kemarau yang baru saja tiba ini hanya menghanguskan bulu bulu bumi, mungkin tidak sampai menghanguskan kita. Kuatlah, bertahan!"

"Aku sudah kalah, Adik. Jauh sebelum sorot matamu itu menjadi hambar, menjadi rupa rupa jalan pintasan untuk menuju ke ranah lain ke jagad tak terjangkau oleh suaraku yang parau sejak engkau mendaulat kemarau ini jadi pembakar palpel, bulu-bulu di sayap burung berantakan tak sanggup lagi menjaring angin, apalagi terbang menuju badai, pemikiranku jadi teramat landai teramat kering untuk menggambar liuk sungai yang pernah engkau khayalkan untuk merenanginya ketika seberangmu dan seberangku menelentang jadi bentang yang tak mungkin kita layari sebab tiang tiang layar tergetar hebat menahan rasa sakit. Ya, setiap tiang tiang yang terpancang, pasti menyimpan biografi dari sebuah rasa sakit."

Lelaku itu terhuyung. Kemarau ini perlahan menjelma api. Tubuhnya nyaris tersengat dari beberapa percikan yang mengejar tetapi perempuan itu setegar mercusuar tak ada rasa api di tubuhnya sebab jauh sebelum kemarau ini tiba, seluruh kulitnya telah menjelma salju.

"Kakak tetap tidak boleh pergi. Membawa palpel yang bergerigi, bulu bulu kangen yang mengitari sekujur perasaanmu itu tak boleh enyah, aku ingin terus memandangnya."

Lelaki itu semakin lemah. Nafasnya tersengal. Jantungnya mulai pelan. Matanya sayup, sementara cairan tubuhnya terus menyusut, dehidrasi tingkat bahaya menghampirinya.


"Adik, aku ingin tetap hidup, merawat palpel ini meski kau tak pernah sekali saja berpikir untuk menyentuhnya. Kemarau ini benar benar ingin menguliti tubuhku hingga sudut paling kronis. Biarkan aku mencari tempat lain. Tempat yang masih menghargai kalimat sepi. Tempat yang bisa membuatku bertahan untuk mempertahankan palpel ini, mempertahankan nafasku yang tinggal sedikit ini, aku ingin menyelamatkan ingatan padamu ke sebuah wilayah dimana aku masih bisa menyebut hidup itu sebuah kesempatan."

Perempuan itu mulai iba. Ia terduduk simpuh ke tanah. Meraba raba kulit bumi memanggil mata air, jarinya bergerak di antara jari jemari lelaki yang menggenggam erat. Ia berbisik, "Dimana sebenarnya kau sembunyikan palpel itu, Kakak?"

"Di sebuah tempat yang sejak tadi telah terbakar,"

"Baik, Kakak boleh pergi! Tetapi tinggalkan palpel itu, lepaskan dari jasadmu agar aku bisa menjadikannya dayung menggerakkan perahu hidup ke tempat lain."

"Adik, kau ingin mengakhiriku?"

"Tidak, Kakak."

"Lalu, mengapa dengan cara ini?"

"Sebab, aku telah gagal menghapal dirimu sebagai kekasih. Gagal memaknai dirimu sebagai rindu yang berbulu. Ini kemarau. Kemarau paling dahsyat sepanjang sejarah peradaban jagad ini. Suhu kini telah mencapai 50 derajat celsius, separuh dari suhu yang akan membuat jasad kita mendidih. Palpelmu sangat berharga, sebab bila dirimu pergi, benda itu sebagai gantinya."

"Baiklah, Adik. Kalau begitu ambilah palpel ini. Raih ia pelan pelan jangan sampai kegugupanmu memaknai hidup tertular padanya membuatnya kaget bahkan terguncang."

"Kau sungguh baik, Kak."

"Terimakasih engkau masih sempat memujiku tetapi aku tak membutuhkan itu."

"Pergilah, Kakak.. semoga dirimu bisa meneruskan hidup."

"Selamat jalan, Adik. Aku pergi."

(Cerita Amat Pendek: Cerampen R. Bintang)

Tidak ada komentar