HEADLINE

KETIKA SENIMAN SASTRA JATUH CINTA_Cerpen R. Bintang (dimuat Simalaba, 30 Juni 2018)


Kenal di Medsos, Sungkawa langsung jatuh cinta pada perempuan itu. Parasnya cantik, syahdu, tapi sedikit celamitan alias genit yang mungkin masih disembunyi-sembunyikan. Tetapi yang namanya rasa kasmaran, tak pandang pencerahan, foto profil adalah ukuran dari mana muasal cinta mesti diberangkatkan. Sungkawa, memandang foto perempuan itu setiap malam, sepanjang hari, bahkan ia cetak beberapa lembar lalu ditempelnya di kamar mandi.

Di hari baik, hujan tak ada. Cuaca kering bahkan nyaris berdebu. Ia, yang telah mendaulat penuh dirinya sebagai 'penyajak' itu bangun pagi pagi sekali. Kontradiksi dari hari hari biasanya, biasanya ia bangun kesiangan, cuma cuci muka dan jarang mandi.

"Kopi buatan Emak memang yang paling nikmat sedunia.."

"Bikin sendiri," ibunya menjawab pujian basi itu dengan sigap. Dan, tegas!

"Waduh, Mak, tega nian."

"Biasakan hidup mandiri. Emak udah dari kecil merawatmu, seharusnya giliranmu merawat Emak, Sungkawa. Mau ngopi? Bikin sendiri!"

Tangannya meraih sebutir gelas, sebilah sendok, toples bubuk kopi.

"Mana gula, Mak?"

"Sepertinya, habis, nak!"

"Wah, kacau."

"Bukannya dirimu saat ini telah jadi seniman, anakku? Kau bilang karya-karyamu sudah bertebaran di beberapa media. Dimuat buku-buku nasional bahkan Asia. Mestinya kau juga banyak uang, bagilah Emak!"

"Aduh, Emak."

"Waduh kenapa? Bukankah sesorang itu menekuni suatu bidang supaya banyak dapat uang. Supaya kaya. Bisa bikin usaha, beli mobil, yang pastinya agar kau cepat kawin. Berhentilah jadi jomblo. Siapa calon istrimu, cepat kenalkan sama Emak."

"Waduh, waduh, Emak ini!"

"Nah, nah, kok waduh lagi?!"

"Mak, permisi, saya mau ke rumah teman.."

"Hei, mau kemana kau, nggak jadi kopinya..?

"Pahit kopinya, tak jadi, lah!"

*****

Di rumah Aan Hidayat, secangkir kopi berbeda rasanya, begitu juga raut wajah. Ruang tamu hanya dihuni dua manusia berambut panjang, Aan sebahu, Sungkawa sepinggang. Sama sama kumal, bedanya Aan lebih tipis dan dibiarkan semraut menutupi wajahnya sementara Sungkawa lebih tebal dan sedikit gimbal, diikat rapi menggunakan ikat rambut Emak menjuntai ke belakang hingga ke pinggang.

Sejak mengaku sebagai para seniman di kampung kami ini, belum begitu lama, sekitar tiga tahun belakangan, beberapa pemuda memperlihatkan revolusi sikap yang sangat aneh, termasuk Aan dan Sungkawa. Jarang mandi. Tidur hingga larut malam. Suka keluyuran ke tempat-tempat lengang. Teriak teriak di pinggir sungai, di pos ronda bahkan di atap rumah membacakan beberapa potong sajak. Setiap bertemu sesama komunitasnya para pemuda ini pasti ngobrol seputar puisi atau prosa. Bahkan tak jarang mereka berdebat hebat saling bersitegang karena saling mempertahankan argumentasi seni masing masing meski klimaksnya kembali berdamai lalu kembali akrab serupa tak pernah terjadi silang sengketa.

Warga kampung kami sudah terbiasa dengan tingkah pola mereka yang nyentrik. Warga juga tidak merasa terusik sebab, menurut Bapak Kapolsek yang juga telah mengetahui sepak terjang para pemuda ini, mereka tidak tergolong penyakit masyarakat cuma pihak keluarga dihimbau ikut mengawasi para seniman ini agar jangan sampai kesurupan karena sering teriak teriak sendiri, membacakan berpuluh puluh judul puisi setiap hari.

"Selama kita jadi seniman, baru kali ini saya merasakan jatuh cinta, An,"

"Hai, dengan siapa? Titin, ya?"

"Bukan,"

"Yuli?"

"Bukan, lah.."

"Sama siapa?"

"Rahayu,"

"Wah, saya kenal, itu temanmu di medsos, kan?"

"Ya,"

"Lalu? Apa rencanamu, mau ketemu, trus ajak nikah gitu?"

"Tentu! Saya ini udah terlalu lama jomblo. Emak dan teman teman sudah mendorong agar segera menikah tetapi ada sesuatu yang mengganjal pikiran saya, An!"

"Ceritalah.."

"Begini, bila saya menikah, khawatir inspirasi seni saya terganggu. Saya sudah mencintai puisi dan menyatakan bahwa saya tidak ingin berpisah, sebab puisi adalah bagian dari jiwa saya, hingga kapan pun akan terus saya tuliskan selama hayat masih dikandung badan. Bagi saya, seni adalah seni, berpuisi adalah berpuisi! saya tak butuhkan pengakuan dari siapa pun saya juga tak butuh populeritas, yang penting terus nyeni terus berkarya tidak boleh terhalang oleh kendala apa pun tetapi, Rahayu, adalah sisi yang bisa saja menjelma menjadi sebuah pengecualian. Waduh, dilema saya, An."

Hening. Sama sama berpikir keras.

"Betul juga katamu. Jangan sampai inspirasi kita dibutakan oleh cinta."

"Nah, itu..!"

"Ahai, tapi kau tak perlu khawatir, Sungkawa! Bukankah Rahayu itu juga suka menulis puisi, berarti dia seniman juga..ha..ha..ha..mantab itu, lanjutkan perasaanmu hingga jagad paling signifikan. Aku mendukungmu, kawan.."

Sungkawa garuk garuk kepala. Mencoba mengingat sesuatu. Gayanya seniman yang sedang memikirkan sebuah rencana besar serta menajamkan pola pikir. Ya, seniman. Inilah versi orang orang ini. Gampang sekali mereka menyebut si anu dan si ini adalah seniman, padahal setiap suatu predikat mestinya harus dilengkapi dengan perangkat pendukungnya. Tetapi, tak apalah, seperti asumsi warga kampung ini: sebut saja mereka seniman. Toh, mereka menulis puisi atau beberapa judul Cerpen, meski baru tahap belajar. Toh, apa pun bentuknya, mereka telah mencoba untuk menawarkan alternatif lain dari sebuah prinsif sekelompok pemuda pengangguran di kampung ini. Mereka telah mencoba berkesenian meski masih dalam skala pinggiran dan hebatnya mereka telah mencoba untuk totalitas. Berani menyebut diri mereka 'SENIMAN'. Itu sesuatu yang wajar sebab tak pantas pula bila orang yang menulis puisi disebut 'PEDAGANG' atau supir, atau disebut peternak. Cuma sebuah sebutan saja apa pun stampelnya yang pasti, mereka cukup menikmatinya.

"Ya, ya, ya..aku ingat sesuatu, An. Asyiiiik..."

"Apa itu?"

"Sebulan lalu Rahayu pernah chat saya. Baru ingat, baru ingat.."

"Ceritalah, kawan.."

"Dia sedang menggarap satu judul puisi untuk mengikuti sebuah event besar yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata sebuah Provinsi. Dan, saya diminta untuk memberi masukan bahkan koreksi sebelum karyanya berangkat menuju panitia. Ini momentum, kan?..ah..ha..ha.."

"Wah, asyik betul itu, mantab, mantab, mantab.."

*****


Seorang seniman yang sedang jatuh cinta akan semakin giat berkarya. Ia menulis secara totalitas perasaan. Keluyuran terus untuk mengumpulkan ilham. Pastinya, cinta, membuat seniman makin produktif dan tentunya untuk seorang Sungkawa semakin kumal, gondrong, semakin pula jarang mandi. Tak apa. Inilah yang disebut karakter sekaligus totalitas berkesenian itu.

Berani jujur pada dunia dan berani jujur pada semua orang termasuk jujur pada diri sendiri adalah juga bagian dari seni, ini yang kemudian mendorong Rahayu menelpon Sungkawa.

"Assalamu'alaikum, Kakak."

Deg. Sungkawa bergetar dipanggil 'kakak'. Saking kagetnya ikat rambut emak yang dicurinya hampir terpelanting dari juntaian gondrongnya.

"Wa'alaikumussalam, Adik. Semoga dirimu smart hari ini,"

"Trims, kakak"

"Adik, adakah yang bisa sayang pangku, terkait event ANDALAS AWARD itu?"

"Hah, pangku?"

"Oh, maaf, maksudnya adakah yang bisa saya bantu?!"

"Kakak, grogi, ya?"

"Ah, tidak juga, cuma girang dengar suaramu yang begitu merdu."

"Baik, Kakak, saya kewalahan dengan event tersebut sebab temanya ditentukan panitia. Saya sangat berharap bisa lolos pada event tersebut meski bukan sebagai juara. Saya akan sangat bersyukur meski hanya sebagai nominator."

"Apa sebab Adik begitu semangat mengikuti event ANDALAS AWARD ini?"

"Pertama; ini lomba menulis puisi yang dikuratori oleh sastrawan sastrawan yang telah jadi. Saya sudah berhenti ikut lomba menulis puisi di group-group facebook yang abal abal yang dikuratori oleh orang orang tak mengerti apa itu sastra yang cuma menghasilkan sekumpulan karya pop mirip puisi, setelah dibukukan ujung-ujungnya para peserta dipaksa beli buku atau mentransfer sejumlah uang. Bisnis omprengan yang bisa kita sebut event Palpel. Kedua; saya yakin bahwa para peserta yang ikut dan yang lolos nanti adalah seniman seniman yang sudah berpengalaman menulis puisi serta karya mereka sudah sering dimuat koran atau majalah sebab para pesertanya diperkirakan ribuan orang dari seluruh tanah air. Bahagia benar bila kita bisa lolos bersama mereka dalam event ANDALAS AWARD 2018. Ketiga; sebab, itu event provinsi berskala nasional yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata di lingkungan tempat Kakak tinggal, jadi saya bisa minta bantu Kakak terkait data-data sejarah atau budaya yang sekiranya bisa saya tulis agar masuk kategori layak muat. Jujur, saya belum pernah ke Andalas dan sangat buta tentang kultur budaya di sana. Semoga Kakak bisa kasih masukan."

Di seberang telepon Sungkawa bahagia bukan main. senyum senyum sendiri. Ia menikmati setiap ritme percakapan dengan Rahayu sambil memandang foto perempuan itu yang senyum celamitan di dinding. Seakan Sungkawa merasakan sedang berbincang tanpa jarak dalam sebuah ruang dan waktu yang tanpa sekat. Ia membayangkan Rahayu ada di sampingnya saat ini. Ia semakin menikmati daulat dirinya sebagai seniman yang sedang menemukan fungsi serta momentum langka. Inilah fase ketika seniman sastra jatuh cinta.

"Baiklah, Adik, saya sarankan kau garap sejarah ini (.......) untuk menguatkan temamu. Jangan lupa kau cantumkan sejumlah catatan kaki di akhir naskah, di bawah titimangsa. Judul puisimu, saya sarankan ini (......) agar lebih menarik perhatian panitia. Untuk narasi silakan kaugarap sendiri agar bisa menikmati permainan kata kata pujangga. Selamat mengikuti event, aku mendoakan agar karyamu lolos seleksi, dibukukan bersanding dengan penyair penyair hebat negeri ini. Bersanding dengan karyaku juga, tentunya. Amin."

"Baiklah, Kakak. Saya akan mempergunakan masukan dan informasi dari Kakak untuk membuat puisi. Setelah jadi, sebelum dikirim ke panitia, saya akan kirim dulu ke chat WA Kak Sungkawa agar dirapikan dan direhap sedemikian rupa hingga memenuhi syarat lolos. Bantu Rahayu, ya.."

"Oks, Rahayu, sayang.." tapi 'sayangnya' diucapkan dalam hati.

*****

Pengumuman nama nama penyair yang lolos kurasi panitia event menulis puisi ANDALAS AWARD 2018 viral di media massa cetak dan online. Tercatat tiga nama sebagai juara 1, 2 dan 3 serta 47 nominator hasil seleksi dari ribuan peserta.

Sungkawa mengamati satu-persatu nama nama seniman yang lolos, berharap besar bahwa nama Q Alsungkawa akan lolos, menyelip diantara nama nama beken dalam daftar final pengumuman tersebut. Tetapi lebih sepuluh kali ia meneliti namanya, tak ada. Plek! Sungkawa terduduk, ia tak lolos. Dan, yang membuat dengkulnya semakin lemas adalah, justru Rahayu, yang karyanya banyak diberikan masukan oleh Sungkawa, eh, lolos. "Celaka dua belas," Kata Sungkawa dalam hati. Rupanya teori keberuntungan tidak bisa dia lawan, siapa bagus dia lulus, siapa beruntung dia manggung.

Dan, Sungkawa sedang tak beruntung. Dentaman yang ia rasakan memukul deras tulang dada, sebenarnya, kekecewaan terbesar Sungkawa bukan karena tak lolos seleksi tetapi lebih karena keinginannya bisa satu buku dengan Rahayu, meleset. Lebih sialnya lagi setelah berhasil meraih predikat nominator, Rahayu, justru menghilang. Alih alih mengucapkan terimakasih pada orang yang telah membantunya, perempuan itu justru angkat dada. Dengan pongah dia berkata di Medsos, "Saya lolos event ini, karena saya hebat, ini berkat ketekunan dan kerja seni saya sendiri. Tak satu pun kalimat yang saya dapat dari orang lain, meski pun saya belum pernah ke Andalas saya paham kultur budaya masyarakat di sana. Itu sebab puisi saya bagus dan menarik perhatian panitia, terpilih untuk dibukukan."

Lebih menyedihkan lagi, ucapan selamat yang disampaikan Sungkawa pada Rahayu, tak dibalas. Entah apa yang jadi penyebab perempuan ini begitu berubah. Apakah kesuksesannya yang kecil itu telah membuatnya buta dan jumawa. Ah, naif sekali, padahal berani berkata jujur dan mengungkapkan fakta yang jujur adalah bagian dari seni. Bagian dari kaidah seni. Jika kau tak berani jujur maka rasa bersalah itu akan terus mengikutimu kemana saja sampai engkau tua. Buktikanlah.

Rasa kecewa yang terlalu dalam ini membuat Sungkawa jatuh sakit. Aan, Nanang dan teman temannya seidiologi di kampung ini membawa Sungkawa ke rumah sakit. Di ruang ICU, ia mengigau, menyebut-nyebut nama Rahayu. Tetapi karena hasil diagnosis dokter menyatakan bahwa, Sungkawa tak sakit medis, tensi darah dan detak jantungnya normal maka pihak rumah sakit menyarankan agar seniman gondrong ini dirawat di rumah saja. Setelah sampai di rumah, Sungkawa kembali pingsan, Emak dan semua teman seniman panik bukan main.

Tiga bulan lebih Sungkawa terbaring di tempat tidur. Tak mau makan, ia menolak semua jenis makanan kecuali kopi. Badannya kurus, rambutnya yang gondrong semakin gimbal dan sedikit rontok. Ia semakin lama pula tak mandi. Emak menangis siang dan malam memikirkan nasib anaknya yang seniman sejati ini. Segala macam obat sudah Emak beli untuk Sungkawa mulai dari racikan brotowali campur pucuk pepaya hingga obat obat medis lainnya, bahkan air yang telah diberi mantra-mantra dukun beranak pun dibeli Emak, yang penting anaknya sehat kembali. Tetapi sakit Sungkawa tak kunjung sembuh, badannya semakin kurus, mukanya tambah pucat. Matanya selalu terpejam, jarang terbuka selama berbulan bulan di pembaringan, dari mulutnya terus keluar kalimat latah, "Emak, emak, emak...Sungkawa hoyong kawin...."

Sudut Bumi, 30 Juni 2018

Tentang Penulis
Nama: R. Bintang
Ia menulis Cerpen, opini dan artikel untuk sejumlah media massa dan penerbit.

Tidak ada komentar