HEADLINE

LELAKI YANG PATAH SUARANYA


Orang bisa saja berprinsif, 'kadang kala kesendirian dibutuhkan untuk melihat gambar diri atau menajamkan pola pikir' tetapi, lelaki yang patah suaranya berpendapat lain, tentang hakikat dari kesendirian dalam benaknya; adalah ranah yang terkunci. Hanya bisa dibuka dengan pertemuan, serta percakapan yang bertautan dengan sebuah proses ajaib, bertautan dengan hikayat terselib.

Seperti saat ia terduduk usai panjang berlari mengumpulkan banyak ketegaran dalam jatuh bangun pendirian. Ia pernah jadi busa di sudut sudut laut yang kerjanya cuma menari mengikuti liuk dan seluk beluk keguncangan hidup menghantam karang menaburi pasir pasir warnanya tak putih bersih malah cokelat serupa karat.

Sementara camar camar adalah sekawanan mimpi gentayangan mengitari cakrawala menunggu lamunan ikan ikan kecil yang tak begitu rapi memaknai hidup. Ketika hidup tersambar oleh patuk menusuk kuku-kuku menghujam tajam sementara darah nyaris tak ada selain senyap tempat jeritan dikunci dihentikan oleh garis garis nasib.

Kembali pada lelaki yang sebenarnya telah menjelma, bukan busa, tetapi ikan kecil. Menggelepar di derap kuku kuku camar. Pertaruhan hidup secuil tak sepenuhnya dapat dibela ketika sisi perlawanan patah di udara. Suaranya lebih patah. Meski selamat oleh sebuah keajaiban. Kembali pada laut, dipelukan busa busa.

Tetapi, ia, memutuskan untuk mengunci diri ke celah batu beberapa waktu. Membiarkan kecipak di punggung membiarkan perasaannya menggelembung. Ada hasrat yang beberapa bagiannya memar terpukul, dan ia, tak dapat pula membelanya; hai, adakah laut ini begitu luas sehingga jiwa yang linglung secepat itu tergulung dengan sisa sisa tubuh yang saat ini hampir runtuh ke palung. Ia, patah kata kata! Lidahnya suram. Terasa benar telah dicuri camar lapar. Camar camar haus kalimat menggugat, melipat lipat peta perjalanan ke butir-butir pasir getir, merah terbakar matahari. Ia, membuat jasadnya membusuk, meracuni sekujur laut.

Mendadak ia surut setelah tersudut dalam timangan ombak dan kesejatian makna kata kata yang sebenarnya, itu, tujuan petualang baginya. Tak seluruh penjuru itu berdenyar berputar berpijaran dalam sekelumit hasrat berseteru dengan waktu dengan banyak pilihan pilihan dengan kemungkinan kemungkinan yang senantiasa sulit diramal apalagi dikendalikan tujuannya melesat ke dalam diri bermukim dan gemeretak bunyi ombak dibawanya kemana mana sementara se isi jagad ini tercengang oleh terjangan lengang oleh dermaga dermaga tak bertiang mengapung saja menunggu pelayaran singgah dari muasal jauh yang letih dan lusuh. Mendadak ia ciut oleh pagut burung burung petarung digiring menuju sebuah persepsi kalimat padat tersusun dari struktur pembentuk batu, pembentuk lempeng karang karang beku.

Ia, lelaki itu, patah suaranya setelah semakin ke tengah ditenggelamkan sedikit kecipak ombak juga hasrat berenang yang retak. Sebab, ia, belum tegar benar, selain menganyam runyam perasaan.

(R. Bintang: Untuk seseorang)

Tidak ada komentar