HEADLINE

PERGINYA SEORANG PEREMPUAN PENDIAM_Cerita Amat Pendek (Cerampen)


Aku sudah menduga, cepat atau lambat, ia akan pergi. Menuju hidupnya. Menuju sebuah tempat yang tak mungkin kujangkau, tempat itu adalah tempat yang jauh tempat yang tersembunyi tempat kesejatiannya sebagai penyendiri sekaligus sebagai pendiam.

Tetapi tak apa. Sebab, sebelum mengenalnya, aku juga pernah mengenal wilayah paling sulit dijangkau itu pada diri banyak perempuan. Tentu tidak berapa jauh berbeda dengan perempuan perempuan lain di jagad ini, ia, pernah patah hati. Pernah merasakan keguncangan yang membuatnya menjadi limbung, dan sebagai perempuan, ia hanya bisa menangis.

"Aku tak ingin membuatmu selalu menangis. Selalu mengurai kesedihan. Belajarlah untuk tersenyum dan realistis saja menterjemahkan hidup ini ke dalam banyak kata kata, dengan begitu kau akan berhenti menjadi perempuan yang pendiam, perempuan yang ditaklukkan perasaan."

Ia pernah merespon kata kataku itu. Pernah menterjemahkan kata kataku itu dalam kata katanya. Bahkan ia pernah terobsesi untuk semakin banyak memiliki kata kata. Ia pernah juga menulis beberapa potong sajak, menurutnya, agar hidup tak selalu sesak, agar bisa lebih dekat dengan selaksa makna petualangan.

"Ya, aku telah memahamimu, sebagai pembawa siasat melawan kepedihan. Engkau telah menawarkan sebuah alternatif yang baik, bahwa untuk melawan kepedihan hidup adalah dengan belajar bicara pada hidup itu sendiri, belajar melepaskan banyak kata kata."

Aku senang. Ia berkata seperti itu. Sebab  aku telah melihat semangat hidupnya nyala kembali, berenang pada kedua bola matanya yang cokelat asia itu, mengalir pada bibirnya yang semakin licin oleh senyuman itu.

"Lupakanlah suamimu sebab tuhan telah memilihnya pada saat dan waktu yang tepat untuk menghadap. Engkau harus meneruskan perempuanmu sebagai bunga, mekarlah kembali, saat hari telah pagi. Saat matahari rekah di dahan-dahan. Ada kicau burung burung kecil memanggil, kupu kupu mengayuh hidupnya, angin membelai pepucuk daun. Semuanya itu hidup. Lihatlah, lihatlah! Semua menikmati hidup ini, kau pun harus menikmatinya."

"Iya, aku ingin belajar menikmatinya.."

"Benarkah?"

"Sungguh, aku ingin belajar menikmati hidup ini dalam bait bait sajak. Menjumpai lelaki yang telah meninggalkanku pergi dalam untaian metafora. Dalam struktur pikiran yang kembara. Aku benar benar merasa telah menemukan sebuah hidup yang baru, hidup yang terstruktur ke dalam susunan huruf susunan senyap susunan konsentrasi yang nikmat susunan ilham yang berdentang untuk selalu melangkah ke sebuah wilayah terang, tempat semangatku mengalirkan lagi anak sungai berbatu-batu tempat kesedihanku jadi ornamen-ornamen lucu tempat kepergian kekasih terbingkai rapi dalam kenangan. Dan, aku tak ingin hidup bersama dengan kenang yang terbingkai itu. Aku ingin merdeka. Aku ingin tersenyum lepas, lepas seperti angin yang melompat jauh ke sudut sudut bumi. Aku ingin menjadi diriku yang baru. Yang hidup. Yang memiliki selaksa kata kata."

"Senang mendengarmu bicara begitu..!"

"Aku juga senang telah mengenalmu lebih jauh. Mengenalmu sebagai pembawa inspirasi sehingga aku bisa melihat dunia ini."

*****

Demikian, perempuan itu, aku pernah sedikit merubahnya. Tetapi aku paham, ia, tak mungkin selamanya hidup dalam sebuah perubahan yang sedikit itu, ia pasti akan menemukan perubahan-perubaha lain di tempat lain bersama orang orang yang lain. Ya, aku begitu paham, bahwa sejatinya setiap orang akan selalu bertemu banyak orang orang berikutnya dalam perjalanan hidupnya. Setiap orang pasti akan pergi ke sebuah wilayah atas inspirasi entah yang didapatkannya pula dari orang orang entah. Dan, tentunya, setiap orang pasti akan menjadi kenangan bagi orang orang lain yang pernah mengenalnya. Inilah hidup. Semua tidak bisa dipungkiri bila nasib selalu menguasai keputusan yang absolut, menguasai pikiran setiap jasad yang bergerak mengikuti inspirasi.

Dan, perempuan itu, pelan pelan hilang menuju lengang. Kembali pada pendiamnya yang kesekian. Bahkan ia lebih pendiam dari sebelumnya. Tetapi tak apa, hidup adalah sebuah pilihan masing masing pikiran, pilihan untuk menjadi penyendiri atau tenggelam dalam hening yang runcing, menancapkan hidup di tempat yang lain.

"Aku tidak ingin bertanya alasan, mengapa saat ini kau kembali pendiam, bahkan lebih pendiam dari sebelumnya.."

Ia tak menjawab

"Baiklah, selamat jalan! Kuharap engkau bisa menemukan kesejatian hidup dalam pilihanmu yang baru.."

Ia, pun, tak menjawab.

"Bila di tempat jauh nanti engkau merasakan sangat sepi, tulislah beberapa potong sajak. Tak perlu kau beritahu aku. Cukup kau tulis saja, berikan pada orang orang yang bersedia membacanya, orang orang baru yang telah kau temui di tempat yang baru agar mereka membaca pula denyar hidup yang menaungi ruhmu.."

"Iya, terimakasih.."

Kali ini ia menjawab, barang kali ini untuk yang terakhir kali, sebelum tubuhnya benar benar lenyap. Bayangannya tak lagi bisa kutangkap.

Banten, 17 Juli 2018

Penulis: R. Bintang
Ia tinggal di Banten, menulis untuk sejumlah media online sambil menekuni dunia enterpreneur

Tidak ada komentar