HEADLINE

SENJA DI TEPI DANAU_Prosa Kolom


Air bersisik. Ikan ikan tenang di dalam, begitu pendiam. Senja ini. Aku sedang berada di sini, di tepi danau sambil mengingatmu dengan ingatan yang kesekian kali, dengan ingatan yang dingin dikikis angin. Angin yang bertiup sepoi saja. Memeriksa danau ini, dan tentunya senja ini. 

Beberapa lelaki melempar pelampung di wajah mereka ada mendung, linglung yang begitu lama terkurung hingga akar akarnya hingga detak kesekian dari waktu mengitari titik titik membeku. Tetapi mereka paksakan tersenyum, menyapaku, meski  aku sedang ingin sendiri. Di sini. Di tepi danau ini, bersama senja ini.

Tentang penghuni danau, orang orang yang tinggal di sini berkisah,  bila ada perjalanan sejarah yang terkunci. Luput dari orang orang dahulu, abai dari orang orang kekinian, itu sebab tanah ini merupa cekungan terisi air dari langit kemudian  merupa danau. Di atasnya gambar matahari terlukis, merah tembaga, memerahkan pula insang ikan ikan di dalam yang sedang pendiam. "Udah tiga bulan ini ikan ikan di sini benci pada mata kail," tutur seorang lelaki pemilik warung di tepi danau, wajahnya galau.

Kukatakan pada mereka, "Esok, atau lusa, aku akan datang lagi ke sini!"

"Untuk apa?"

"Untuk menulis beberapa potong prosa,"

"Prosa apa?"

"Prosa kolom,"

"Apa itu prosa kolom?"

"Yaaa..., sebuah prosa, yang ditulis untuk dimuat pada sebuah kolom, begitu!!"

"Wah simple sekali."

"Ya, aku memang selalu berpikir simple. Untuk apa berpikir rumit. Biarkan orang yang membaca punggungku, yang akan selalu memandang hidup dari aspek yang rumit. Dan, aku, tidak ingin rumit. Aku ingin serupa ikan ikan di dalam danau ini, senyap, dinamis dan pendiam. Simple sekali. Dan, aku suka itu.."

"Lalu di kolom mana prosa-prosa simple itu akan kau taruh?" Seorang di tempat lain, di waktu yang lain, pernah bertanya pula.

"Pada sebuah situs pribadi."

"Hai, engkau ini seorang blogger?"

"Bukan, aku hanya mencari kemungkinan lain dari dominasi kesilaman yang sudah saatnya dilawan."

"Dominasi apa?"

"Dominasi pikiran yang mendaulat hidup mesti bernaung di bawah bayang bayang pengakuan kesilaman,"

"Oh, jadi kau tak lagi suka berada di zaman seperti itu?!"

"Ya, aku ingin merdeka. Merdeka dengan segala pikiranku. Merdeka dengan membawa segala alternatif yang mustahil. Aku ingin mengubah segala kemustahilan itu sebab di dunia ini tak ada keputusan yang absolut."

Kembali memandang danau aku semakin terpukau, pada warna warni saling menggiring keindahan bersama sama ke sebuah titik yang dinamis. Air bersisik ditiup angin, menangkap bayangan senja yang merah tembaga, rumput-rumput hijau semak belukar tersusun jalan setapak menelentang begitu tenang menyuguhkan jalan pulang tetapi aku belum ingin pulang aku sedang ingin menyendiri, meski tak benar benar sendiri, aku ingin memandang danau ini beberapa saat menunggu ikan ikan di dalam tak lagi pendiam.

Ikan ikan yang kemudian bicara padaku tentang sebidang tanah lapang yang menjelma cekungan terisi penuh air dari langit kemudian disebut danau. Ikan ikan yang kemudian bicara kesejatian sejarah tentang berpuluh puluh mayat yang pernah dilarung ke tempat ini, dahulu, ketika zaman revolusi. Ikan ikan yang menarasikan pikiran pikiran ganjil dan hidup yang gigil. Ya, aku ingin sekali melihat mereka meloncat ke atas, mengibaskan siripnya memukul punggung danau mencipratkan bunyi mengusir sepi mengusir segala bengal penantian yang terus berjalan.
Ikan ikan yang kemudian bicara padaku, "Datanglah kembali ke sini, di saat cuaca baik dan tentunya di hari yang juga baik."

"Bila aku datang kembali ke sini, apakah kalian akan menyambutku?"

"Ya, kami akan menyambutmu, membaca prosa-prosamu sebagai umpan untuk menterjemahkan lebih jauh tentang makna kehidupan."

"Ah, aku jadi tersipu.."

"Tak perlu sungkan, bukankan orang orang yang datang ke sini dengan maksud yang kurang lebih sama. Melempar pelampung warna warni merayu kami agar menari di udara membuat riuh hingga jauh mencipta kesenangan yang mungkin di tempat lain selalu berantakan tetapi ditempat ini secuil kesenangan hidup kami janjikan meskipun harus ditebus dengan sedikit penantian."

"Tetapi bukankah kalian sedang benci mata kail?

"Mungkin! Tetapi tidak denganmu!"

"Sebab?"

"Sebab engkau datang dengan membawa kata-kata yang terselip di celah dada. Yang terus kau kecap hingga terhisap yang terus kau sentuh hingga jauh, hingga kemungkinan kemungkinan kini telah ditempuh hingga selaksa nama perempuan kau bingkai dalam dimensi kesendirian."

Baiklah. Aku akan datang lagi ke sini. Di hari baik, pada cuaca dan kesempatan yang baik. Menemui danau ini. Memeriksa senja: yang warnanya merah tembaga.

Baros, 08 Juni 2018

Penulis: R. Bintang

Tidak ada komentar