HEADLINE

JALAN PANJANG DI TUBUH LELAKI_Prosa Kolom


(Penulis: R. Bintang, seniman grafis yang nyambi menulis prosa)

Ada jalanan, menikung di tubuhku. Kemarau rebah di aspal, menggilas banyak kemungkinan yang telah kita rawat baik baik. Adik, engkau telah kuanggap sebagai pejalan kaki di sini, meniti tubuhku, mencari cari sesuatu.

Jika yang kau cari adalah sebuah kenyamanan hidup, mungkin saja ada di sini, tetapi itu cuma sisa sedikit saja, seiring tikai tak kunjung selesai memenuhi punggung yang melengkung membentuk tebing-tebing meninggi memagari pandangan agar kita paham bahwa jagad ini tak rata. Tidak juga seperti perjalanan tanpa halang melintang, membuat kita jadi pandai menghargai segala yang pernah menetap dalam pikiran kita.

Jika yang ingin kau temukan adalah kisa kisah angin maka pelankan langkahmu itu. Di kiri kanan jalan tumbuh semak pohon daun daun bergerak melambai pada muasal kesilaman. Tau, kah, dirimu? Kesilaman itu tempat angin bermukim tempat kenangan menjadi manis setelah pahitnya terkikis di lidah kita yang disesaki selaksa kata kata, liar seperti imajenasi yang memang kubiarkan menjadi liar agar merenangi pepucuk ombak di kedalaman matamu itu dan aku tetap menjadi bintang yang remang menyusut di langit kusut meski ada sekedip cahaya, Adik, jangan pernah engkau membayangkan jagad ini tak lagi ada cahaya! Sebab kita akan tenggelam dalam gelap yang senyap dalam kepanikan dalam peta-peta yang tersesat dalam limbung rumah puisi dalam kecemasan yang kian berjalan.

Ada jalan beraspal memanjang di tubuhku. Meleset jauh ke arah tujuan tak berujung melata serupa tujuan itu sendiri yang senantiasa terhalang sesuatu. Ada rambu-rambu dan tanda penunjuk arah. Marka yang tersusun di celah sempit matamu memudar oleh cahaya hidup kelam timbul dalam setiap percakapan yang biasa engkau kemukakan. Kita, sejatinya, banyak menyimpan rasa kehilangan, Adik! Kehilangan nama nama pergi silih berganti kehilang hasrat mencatat segala yang memuncak dalam pikiran kita kehilang an bentuk cinta yang (mustahil) kita kembalikan pada tafsir paling masuk akal. Itu sebab aku membiarkanmu tergerus di sudut itu dengan mata yang lindap memandang jalan yang membentang di jasad lelakiku.

Kemudian pintu-pintu tol menganga di kejauhan. Orang orang tumpah semakin meramaikan jagad ini dengan membawa hikayat terbang. Terbang sebagai ruh. Sebagai awal mimpi mimpi telentang di balik cangkang. Ada hiruk pikuk juga peradaban pasar yang tersesat jauh ke dalam pikiran kita awal yang membuat kita mengenal begitu banyak pekik dan wajah wajah kosong meski berupaya sekuat tenaga tersenyum awal yang membuat kita saling membanting pirasat masing masing atau kemustahilan yang selalu ingin mengajak kita berdamai.

Ya, jalanan kian menikung tajam ke celah tubuhku, dan engkau telah meniti ini berkali kali

*Bersambung*

Tidak ada komentar