HEADLINE

PULAU ITU, IA SEDANG BICARA PADA DUNIA_Prosa Kolom

(Penulis: R. Bintang, seniman grafis yang nyambi menulis prosa)

Ia sedang gundah. Pulau itu. Yang menghadap ke barat, memunggungi matahari pagi. Tempat burung burung kecil bersiul berloncatan dari ranting ke ranting hutan. Tempat lipatan lipatan tebing runcing di punggung gunung, tempat puncak melenggang meliuk menuju awan, (bila tiba di puncak-puncak itu engkau akan menyaksikan tarian laut dari kejauhan yang kusut.)

Laut, sejatinya memang menjadi syurga mata di tanah ini. Nyiur-nyiur melambai dari habitatnya, memanggil manggil turis agar singgah menjemur tubuh di labuh pantai dan sejarah tanah terbawa ke jagad jauh. Ke jagad asing, pastinya. Hingga menggamit rasa penasaran orang orang asing membawa dollar mengenalkan jasad jasad mereka yang kekar yang tinggi yang berkulit kemerahan yang datang berlibur atau mencari jejak damai di sepanjang pantai.

Ya, di pantai itu, hasrat menyimak kecipak ombak begitu ia banggakan, sebab angin teluk memeliharanya dengan kehangatan sikap sepanjang selat sepanjang romansa cinta yang memanjat. Menaungi bermiliyar miliyar senja yang merah tembaga warnanya, musim-musim luruh sebagai daun atau berderak jatuh serupa pelepah kelapa. Ya, di pantai kedamaian sepanjang hari dirawat hingga ia bermukim pada musim musim berkejaran bercinta dengan begitu dinamis bercengkrama bersama sejarah gerimis.
Orang orang juga hidup dalam kisah kisah yang ringkas. Memandang ke dalaman sudut mata sesamanya, menyemai cinta, kangen, bahkan sedikit rasa kasmaran yang ganjen. Orang orang tidak pernah bersilang pendapat tentang hikayat sebuah gunung, di pulau itu, pernah berdentam pada kesilaman peradaban ketika langit diguncangnya cahaya surya nyaris ditenggelamkannya dengan berjuta ton kubik debu merubah warna langit nyaris tak lagi biru. Pulau itu pernah menguburkan sebuah kenangan pahit sebelum kenangan itu melebar membentuk kaldera. Kerikil kerikil berloncatan hingga ke seberang jauh, merantau dan hingga kini tak pernah lagi kembali.

Orang orang tidak pernah menyusun sebuah estimasi bila bising sejarah sesekali akan berziarah. Menengok nisan nisan berlumut di lipatan ingatan, melapangkan aliran sungai air mata menuju muara, menjumpai laut, memeriksa pantai menjilati hutan hutan bakau di jagad payau sambil meminang anak anak kemarau.

Hingga bubungan yang telah dibangun sepanjang tahun itu guncang, tiang tiang beton terjungkal ke aspal, membentuk keriuhan di kampung-kampung sepi, pulau itu, ia ingin sekali bicara pada dunia.

Pulau itu menggeliat dari tidur panjangnya yang capek. Mengibaskan debu debu menebal di sekujur kulit hingga jantungnya berdenyar membentuk gelegar yang mengusik juga ketenangan laut. Pulau itu menyapa orang orang yang bertebaran di pusat-pusat keramaian melambai pada turis yang datang bersenang senang, ia guncang tiba tiba, melompatkan atap atap gedung ke belantara parkiran memukul tiang tiang listrik membuat panik seantero kota. Pulau itu tiba tiba saja berteriak pada dunia bahwa, ia, sedang tak begitu nyaman hingga suaranya meleset ke angkasa menyesaki layar layar telivisi. Dan, negeri yang telah cukup lama di huni reaksi reaksi aneh membentuk persenyawaan antara fakta dan kemustahilan juga limbung, gelagapan. Pulau itu kemudian menarasikan sebuah getar yang nikmat. Sebuah guncang yang meradang. Telentang menantang angkasa dengan seringai wajah yang tak begitu ramah.

Pulau itu, sebenarnya, ia sedang bicara pada dunia bahwa dirinya pernah lahir dari sebuah rahim kaldera. Dari persenyawaan cinta antara magma dan lava. Dan, pulau itu adalah jejak kesilaman yang tak ingin engkau tenggelamkan.

*bersambung*

Tidak ada komentar