HEADLINE

JALAN MENUJU MIMPI_Oleh R. Bintang


Dulu, aku pernah berkata padamu, "Aku akan pergi untuk waktu yang lama.."
Dan, hingga kini, aku belum berpikir untuk pulang. Setelah peta jalan ke rumah jatuh di tikungan, terinjak banyak orang melintas, juga terinjak hasrat yang terbelah di pelabuhan. Ya, sejumlah nama telah melayarkanku ke tempat lain. Itu sebab, aku pernah pula mengirim sebuah pesan singkat untukmu; "Semakin kukenang alamat pulang, semakin runcing pula hasratku untuk pergi..!?"

"Pulanglah, walau cuma sebentar, aku ingin sekali melihatmu.."

"Untuk apa engkau melihatku, Armalida?"

"Sebab ada gambar-gambar hidupku pada cahaya yang memantul di kedalaman bola matamu!"

"Aih, Armalida. Kuharap dirimu tidak tersesat untuk yang kesekian kalinya."

"Tidak. Justru aku ingin tersesat lebih jauh ke dalam pola pikirmu. Dihanyutkan waktu. Meliuk dalam kecipak angin beterbangan sebagai debu."

"Armalida, Armalida..!? Sebenarnya siapa yang sedang terjebak dalam mimpi ini. Aku, atau dirimu?"

"Kita sama sama terjebak, Bintang!"

"Keliru, Armalida. Engkau tidak terjebak dalam mimpi ini sebab sejak dulu engkau telah terjebak dalam pilihan hidupmu sendiri. Dan, itu realistis, aku sangat memahami sekaligus menghargaimu. Hidup adalah sebuah kosa kata, Adik. Semakin kita memahaminya maka semakin terseret pula kita dalam celah celah kehidupan itu dan aku sudah merasakan semuanya sejak pertama memunggungi Pulau Andalasmu itu, sejak pertama kusentuh tiang-tiang pelabuhan sejak gemeretak tulang-tulang kapal merenangkanku ke sebuah tempat yang sebelumnya belum pernah kulihat sejak saat itu pula sekujur jasadku menjadi buram. Seburam berita yang lamat kudengar, tentang dirimu dipinang nasib, dan pecah di pelaminan takdir. Sejak itu pula aku memutuskan untuk tenggelam lebih lama, terjebak dalam mimpi mimpi bumi."

"Tetapi, Bintang, pulanglah. Meski tak lama. Meski pula bukan untukku. Jujur, aku sebenarnya tak ingin bertemu denganmu, meski ada sekelebat hasrat untuk melihatmu. Sebentar saja. Ya, cuma sebentar, sekedar ingin memeriksa bayangan hidupku yang dulu pernah memantul di kedalaman bola matamu itu."

"Kukira bayangan itu sudah tak ada, Adik.."

"Bintang?!"

"Maafkan aku, Armalida. Sekali lagi kukatakan, hanya diriku yang terjebak dalam mimpi-mimpi ganjil ini, sementara kau tidak."

"Rupanya mimpi-mimpimu itu telah menghapus bayangan silam, Bintang. Dan, jangan lupa, dalam kesilaman itu ada diriku."

"Aku ingin mengatakan; Ya, Armalida..!"

"Kalau begitu lanjutkanlah mimpimu itu, Bintang."

"Lalu, apa yang ingin engkau sampaikan lagi?"

"Aku ingin engkau terus bermimpi. Bermimpilah tentang waktu yang bisa kau putar ke sebuah titik bermula, di sana kita kembali pada sebuah tempat pertama bertemu, lalu merubah arah rencana. Percayalah, di titik mimpimu yang satu ini, aku tidak akan pernah terjebak dalam pilihan hidupku sendiri dan tentunya engkau tak jadi meninggalkan Pulau Andalas ini."

(R. Bintang, jurnalis dan peneliti. Bekerja untuk sebuah lembaga riset independent)

Tidak ada komentar