HEADLINE

TAK ADA PUISI_Oleh R. Bintang


Tak ada puisi pagi ini. Cuma rasa kosong yang menyentuhmu sampai ke ubun. Hasrat berhenti dari hiruk pikuk manusia di sini, dan pulang ke kampung, menggulung sebentar saja hasrat merantau, hasrat melanglang tualang ke jagad terang. Kembali pada remang remang belukar dan semak menjalar dalam pikiran orang orang dahulu, orang orang yang pernah mengajarimu bagaimana hidup hikmat, bijak, sederhana dalam kata kata.

Tak ada puisi yang melayang dalam pikiranmu, pagi ini, cuma sekelumit kata kata merana. Lepas dari cangkangnya. Udara hambar, langit pucat, di teras rumah (dekat tempat sampah) lalat lalat terkapar di jerat lekat pada tempat bertumpu. Salah menentukan arah bangkai. Dan, kaki kaki kecil dikuasai aroma yang ditempel pada perangkap, terjebak akhirnya ketika keinginan sendiri membumi sementara kematian mereka telah dihamparkan. Cuma tinggal menunggu waktu.

Genangan air. Sisa hujan semalam. Aroma apek pemukiman di belakang pasar penuh jerit tertahan dari orang orang yang menderita bersijingkat dengan kelebat ribuan lalat, sebab peradaban pasar juga yang selama ini mengajari kita cara bersaing hidup sekaligus mengajarkan hidup dalam habitat yang tak sepenuhnya nyaman. Tetapi tak ada puisi mengalir, atau tergenang, di comberan-comberan busuk di emperan rumah toko, di parkiran dan mulut-mulut gang yang keselek oleh kemacetan sebabnya lagi kadang pada waktu waktu tertentu kemacetan itu menjalar ke depan pintu rumah kita, bahkan menjalar hingga ke dalam kehidupan kita.

Sementara jagad ini sedang menimang-nimang nasib kita sebelum dilempar entah ke mana. Tak ada puisi, yang benar benar puisi, selain hasrat pulang yang tiba tiba saja runcing di kuping. Jalan setapak di kampung melintas dalam ingatan, menikung dalam lamunan. Engkau merindukan tarian nila nila cantik di kolam. Air dari gunung dihantarkan ruas ruas paralon. Bertani. Menanam kehidupan di tempat itu dilengkapi dengan segala sesuatunya dengan segala konsekuensinya. Engkau sebenarnya sudah cukup lama merencanakan ini sejak kepalamu sesak, muak, oleh obrolan obrolan sampah politik di layar televisi. Ya, televisi, yang juga lambat laun akan ditinggalkan banyak orang sebab tempat sampah yang ini juga dihuni ribuan lalat, ribuan belatung, ribuan tukang tenung dan para pelaku peradaban pembual. Engkau mual. Dan hasrat istirahatmu semakin nyala. Semakin bergejolak. Menuntut dirimu sendiri agar kembali pada dzikir, dzikir angin di pepucuk pohon, dzikir sungai kecil berbatu batu di bagian hulu, tempat sekawanan udang merencanakan selaksa hasrat berenang.

Tetapi tetap tak ada puisi menemuimu di tempat ini. Tak ada kelebat kalimat juga kekata latah di udara. Langit masih pucat. Dan, hasrat pulang, yang kian menguasaimu berenang ke hatimu bagian paling hulu.

Orang orang di sini masih berkeliaran di pasar. Saling memandang dan menawarkan hasrat masing masing yang runcing. Sebagian mencari jalan ke luar dari mulut-mulut gang mencoba peruntungan pada alamat yang sejak jauh waktu telah memanggil mereka untuk jadi hamba kembara meski tak seberapa jauh dari pintu pulang dan kembali pada jiwa sunyi menelentang di tengah ruang sambil menatap langit langit. Engkau terus mempertahankan nafas ini agar tetap panjang dan semakin memanjang merupa sebuah jalan. Atau sayap. Untuk terbang menuju puisi. Tetapi tak juga ada ilham untuk sebuah puisi yang sejak malam tenggelam ingin sekali kau tuliskan agar sesuatu yang menyelinap ke dalam pikiranmu itu bisa segera menemukan jawabannya.

Banten, 22112018

Tidak ada komentar