HEADLINE

JEVA, AYAH TAK INGIN ENGKAU JUARA SATU



Saya pernah berkata: "kau tak usah juara kelas, ayah tak butuh gelar juara dan tak ingin menuntutmu atau membebanimu agar dapat rangking.."

"Tapi saya rengking satu di sekolah madrasah, yah.."

"Cukuplah itu. Ayah sudah cukup puas. Pagi kau sekolah es-de hingga siang, siang hingga sore kau sekolah madrasah, malam berangkat lagi ngaji Alqur'an. Sekolah umum di negeri ini adalah pemborosan waktu. Lihat saja lulusan es-de (yang mesti 6 tahun itu), lulusan es-em-pe (yang mesti 3 tahun itu) ketika dapat ijazah, mereka belum tentu hapal berapa jumlah provinsi yang terdapat di pulau Sumatera. Jadi sekolah umum, cukuplah agar kau bisa baca, tulis, hitung dan sedikit wawasan sejarah saja. Selebihnya fokuslah menuntut ilmu agama untuk bekal abadi. Sedangkan untuk karirmu di kemudian hari,  ayah lebih suka kau mendalami suatu bidang saja sejak dini, misal; badminton, sepak bola, taekwondo, seni kreatif atau komputer (pilih salah satu). Kasihan otakmu masih muda bila mesti dicekokin dengan kurikulum yang terlalu banyak itu."

"Berarti, kalo Jeva tidak dapat rengking, ayah tidak marah?"

"Tidak.."

"Asyiik..!"

".....?!"

"Tapi teman teman dituntut oleh orang tuanya agar rengking di kelas, yah. Kok ayah beda..?"

"Sebab orang tua teman temanmu tidak paham seni mengolah pikiran. Mereka juga tak paham bila sekolah itu bukan untuk mencari predikat juara yang semu, tetapi untuk melihat serta menentukan talenta apa yang dimiliki anak anak. Bila sudah terlihat maka kejarlah talenta tersebut. Pupuk dan sirami sebab kelak bakat inilah yang akan menjadi bidangmu di kemudian hari. Kenapa orang kita bodoh bodoh? Sebenarnya otak mereka belum tentu bodoh, cuma saja, hingga tua renta mereka tidak dipertemukan dengan bidang mereka. Inilah yang membuat negeri ini berjalan sempoyongan meski memiliki penduduk terbesar ke-tiga di dunia."

Hari ini. Masih jam sembilan pagi. Ia menghampiriku.

"Ayah, Jeva merasa sedih.."

"Kenapa kau sedih? Kan udah bagi rapor, mestinya kau gembira..!"

"Ayah kan tidak menuntut Jeva rengking?"

"Iya, ayah sama sekali tak ingin membebanimu."

"Tapi, Jeva malah dapat rengking, yah. Rengking 5. Padahal Jeva sudah berusaha agar tidak dapat rengking, tapi kata ibu guru, Jeva sangat layak dapat rengking lima bahkan kalo Jeva belajar lebih tekun maka akan rengking satu."

Aku mengelus keningnya. Dan berbisik, "Itu bukan rengking, tetapi bonus dari kecerdasanmu yang tak mungkin dapat ditutupi oleh siapapun juga. Sudahlah, teruskan menghapal Alqur'an, fokus di madrasah. Soal karirmu di kemudian hari ayah sudah paham dan telah menyiapkan agenda untukmu dalam pikiran ayah."

(Penulis: Riduan Hamsyah, seniman grafis yang suka menulis sastra)

Tidak ada komentar