HEADLINE

LELAKI YANG BERDIRI DI AKHIR ZAMAN_Oleh: Riduan Hamsyah


Ia, berdiri, tepat di akhir zaman
ketika sangkakala
telah berada di moncong bibir yang getir
anginnya mendesis di kejauhan
mengurai debu. Merontokkan daun-daun perdu
lelaki itu
dihinggapi keraguan membadai
kekacauan pikiran menggelembung hasratnya untuk mengukur jarak, seberapa jauh
: antara retak dan kehancuran tanah busuk ini.

Ketika semua orang akan menyaksikan pula
kerusakan kerusakan besar terjadi
tiang-tiang gedung menggelinding
bayangannya berserakan di bola mata, menyisakan bunyi
dan memar ke seluruh penjuru bumi
wajah pucat. Hari hari bergerak cepat
serupa pecut yang berkelebat menghantam
tanah-tanah lebam
tumit sepatu juga derap kaki menuju arah tak beraturan.

Ia, ingin cepat cepat pergi, meninggalkan
tempatnya tertegun selama ini
menyusun rencana rencana baru di zaman lain
memasuki zaman yang lain tersebut
dengan hati sejuk
dengan jiwa yang diterbangkan ribuan kupu kupu.

"Ini bumi tua,"  katanya, cakrawala juga tua
orang orang yang sebenarnya telah lama dikenal
tak begitu membuatnya menjadi utuh sebagai makhluk
bahkan, ia terganggu, dan ingin merubah letak pintu
tentunya pintu masuk ke ranah yang lebih terjangkau
sebab di akhir sebuah zaman tak menentu ini
semua serba aneh
orang orang berwajah aneh
angin bertiup mengisyaratkan gerakan gerakan aneh
hasrat dan kata kata yang juga terdengar aneh.

Ini akhir zaman. Tepatnya akhir dari sebuah kemungkinan berganti rupa
ia, cuma ingin mempersiapkan diri, adakah akan terus
berdiri (di sini) digerus waktu, atau mencoba memimpikan jagad yang lain
sebuah jagad tempat sungai sungai berparade
mengalir ke dalam diri
kupu kupu menari
mengitari jiwa, mengitari pikiran sejuk
setelah enyah dari sebuah tempat terkutuk.

Banten, 20122018


Tidak ada komentar