HEADLINE

SEBUAH NEGERI DI MULUT BENCANA_Sajak Riduan Hamsyah


Jalan itu. Meliuk seperti ular
melilit gunung-gunung lapuk
dan kunang kunang
terbang
warnanya merah, rekah di kejauhan.

Di kejauhan itu pula getar hati
pecah berantakan
menjelma ketakutan yang menjalar
mengejar
dengan seringai badai
dengan wajah pucat pasi sambil menyembunyikan jiwa
ciut di kedalaman.

Ini kali pertama para penyajak diam
mungkin
sebentar nanti bicara, tetapi tak dapat kau tolak
ini sajak pertama melompat ke bumi
melompat ke sebuah negeri yang meringkuk tak berdaya
di mulut bencana.

Untuk sesaat orang orang akan
menjauhi laut
menyibak kembali sejarah punggung sebuah gunung
yang sekujur kulitnya dilumuri api
dikepung awan putih juga gelombang yang mendidih.
Gelombang tangis yang parau di lipatan tsunami
di lipatan likuipaksi
di lipatan kata kata latah dengan doa doa
melesat ke udara
lalu hilang disapu ingin dingin.

Laut. Ia melemparkan kembali
sampah sampah yang pernah kau lemparkan ke pesisir
laut mengirimkan lumpur dan kotoran kotoran
ke ruang tamu rumahmu
sebab engkaulah yang telah
mengawali sengketa dahsyat ini, mengetuk mula pertikaian ini

Dan isyarat dari tanah tanah guncang
berderak pelan pelan
merayap, mendekati pintu rumah kita.

Seperti musim musim yang panjang
ini belum akan berhenti
merupa seleksi alam akan terus mengurangi
bilangan kepala tersesat atas pikiran pikiran laknat.
Musim. Adalah sebuah mulut bencana
mengintai dengan seringai
di kejauhan
dan sesewaktu ia akan mendekat
menghampirimu
menghitung seberapa nyala pada biji matamu itu.

Banten, 28.12.2018

Tentang Penulis:

Riduan Hamsyah, sajak sajaknya dipublikasikan pada sejumlah media dan buku buku antologi bersama juga tunggal



Tidak ada komentar