HEADLINE

KAMI AKAN TETAP BERPUISI_Oleh Riduan Hamsyah


"Kami akan tetap berpuisi," kata anak anak embun
pada daun, pada pagi yang membawa cahaya
kemudian pada langit yang memudarkan cahaya itu dengan mendung.

Sederhana saja, jika puisi berhenti, kami dapat apa dari nafas kehidupan ini?
Batu membeku di dasar sungai. Angin merantau jauh. Jalanan semakin sunyi.

Serupa orang orang yang hilang dari ingatan. Perlahan. Memudar di kejauhan. Hai, sebab kami biji biji puisi ini mengerti benar hati orang orang yang datang kemudian orang orang yang pergi menuju alam pikirannya. Sebagian dari mereka telah mendapat khabar miring dari lidah yang juga miring, dari para penjilat yang suka tersenyum sambil menepuk dada.

Ketika hidup kian disibukan dengan banyak pilihan. Semakin banyak pula kita keliru menilai bentuk yang pernah hadir di depan kita. Sebab isi dada bersampah. Disesaki idiologi baru. Juga peta peta pemikiran baru.

Kami akan tetap berpuisi meski sakit hinggap di hati. Merasuki pembuluh. Memaksa kami untuk menceritakan tentang rasa pahit yang bersarang dalam jiwa. Saat dunia sempat ramai oleh kata kata dari orang orang yang datang mendadak lalu pergi dengan mendadak pula. Dari kata kata yang dipaksa jadi indah namun gagal menemukan hakikatnya. Ini jagad tempat kami menetap. Muara dari segala sungai yang meliuk liuk setiap detik dalam diri kami. Kami telah merawatnya sejak lama. Bahkan sejak kami belum ada.

Banten, 20.01.2019


Tentang Penulis: Riduan Hamsyah, saat ini menulis puisi, artikel dan sejumlah ulasan untuk media online. Karya-karyanya juga pernah dimuat media cetak Seperti Majalah Sabili, Jurnal Asia, Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Media Kalimantan, Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin, Fajar Makasar, Harian Rakyat Sumbar, Palembang Ekspres, Simalaba, Harian Amanah, dll. Serta terdokumentasi dalam puluhan buku antologi yang terbit sejak tahun 2006 hingga saat ini.


Tidak ada komentar