HEADLINE

SEPOTONG ROTI



Penulis R Bintang

Usai menyambar sepotong roti, lelaki itu kemudian pergi. Meninggalkannya begitu saja. Ia hanya memandang lelaki itu sekelebat mata, sempat menoleh sesaat, tersenyum tak berdosa kemudian berlalu tanpa basa basi. Padahal, roti yang ditelan lelaki itu, bukan miliknya tetapi milik banyak orang. Roti itu dibeli dari uang hasil sumbangan orang banyak akan dikirim untuk bantuan kepada para pengungsi di sebuah wilayah yang baru saja terkena bencana.

Lelaki itu, bukan pula menjadi bagian dari para relawan yang mengumpulkan bantuan, cuma mengontrol orang orang yang kerja sosial. Bicara itu dan ini dengan kalimat kalimat beradab. Tetapi buktinya, tangan kanannya menyambar sepotong roti di atas meja yang akan dikirim kepada banyak orang yang baru saja terkena musibah. Anehnya, lelaki itu sedikitpun tidak merasa berdosa.

"Sudah berapa bantuan uang yang terkumpul?"

"Sekitar 22 juta, pak"

"Ow, cukup lumayan, lalu dimana uangnya sekarang?"

"Ada di saya, pak. Kebetulan saya diberi amanah sebagai bendahara."

"Oke, bagaimana distribusinya?"

"Sebagian uang telah kita kirim kepada para korban terdampak bencana, Sebagian lagi masih pada saya karena ini bantuan yang datang belakangan tetapi secepatnya akan saya kirim melalui jalur yang telah ditentukan."

"O, bagus itu. Ada lagi?"

"Ya, ada, pak. Uang itu juga kita belikan bahan bahan makanan seperti roti. Tentu ini sangat dibutuhkan oleh para pengungsi."

"Ahai, mana rotinya?"

"Oh, ini pak.."

Slep, tangan lelaki itu menyambar roti tersebut. Lalu pergi begitu saja tanpa rasa bersalah. Ia masih memandang lelaki itu sebelum kelebat punggungnya hilang di balik pintu. Ia termangu. Dan, sangat heran. Selama berminggu minggu ia mengumpulkan bantuan dari para dermawan, tak secuilpun, ia memiliki keberanian untuk menyalah gunakan dana tersebut tetapi lelaki yang cuma mengontrol saja tiba tiba dengan tanpa basa basi merenggut sepotong roti yang akan dikirim. Ah, rusak benar mental para orang tua di republik ini, entah yang mana yang bisa kita jadikan panutan. 

Tidak ada komentar