HEADLINE

"Saya Bangga Bisa Bersama Mereka"_Catatan Riduan Hamsyah


Nuansa Awal Tahun

Fungsi hidup, salah satunya adalah senjata untuk datang dan pergi. Untuk melengkapi dan mewarnai. Tetapi di jagad lunak ini, adakah yang abadi? Tidak. Di sini tak ada yang abadi, termasuk prinsif prinsif hidup itu sendiri, sesungguhnya ia kadang memancar serupa suar tetapi pula terkadang berguncang dalam kabut. Redup. Bahkan terkatup.

Sebab sebenarnya hidup itu sendiri adalah 'katup' atas nafas turun naik di sekujur dada kita. Sekelebat udara yang merantau ke lorong paru paru. Udara yang datang membawa aroma angin dan pergi mengangkut sisa pembakaran dan sejarah persenyawaan.

Serupa pula dengan kehadiranmu di balik pintu ruangan itu. Semula engkau datang atas peristiwa yang tak sengaja, atas lambaian tangan seseorang (mungkin) atau lebih tepatnya atas kehendak tuhan yang telah mengatur sedemikian rupa segala sesuatunya. Kemudian atas peristiwa yang tak diduga pula engkau akan pergi, entah kemana? Tetapi sekali lagi, Tuhan yang maha baik telah menyiapkan secangkir air untuk  kau minum hingga menghanyutkanmu ke tempat lain. Ke sebuah ranah entah. Dan, sesekalipun, engkau tidak akan pernah menyesali keputusan ini. Dinamika hidup yang akan menghidupkan segala unsur saraf saraf pikiran yang kau punya sekaligus yang kau pelihara dan tentunya yang tak mungkin dapat kau ramal kemana arah kepak sayapnya.

Di awal tahun ini engkau merasa telah mengambil sebuah keputusan penting. Sebuah sikap yang melengkapi prinsif dan tentu pula sebagai manusia dirimu tidak hanya ingin membuat hidup berdenyar di sekujur dada saja tetapi juga ingin membiarkan hidup sayap sayap rencanamu. Di balik semua keputusan yang telah latah tercetuskan, engkau mencatat sesuatu yang sangat menggembirakan selama ini, yakni: berada di antara orang orang yang  kau kagumi. Ya, mereka adalah rekan rekan kerja di ruanganmu. Engkau ingin mencatat baik baik dalam uraian ini, bahwa "Engkau Bangga Karena Pernah Bersama Mereka". Dirimu mesti berkata jujur bila hidup ini tidak akan pernah berwarna tanpa orang orang yang baik di sekitar kita tanpa orang orang yang penuh gairah hidup dan semangat juang yang terbakar pada setiap pasang bola mata sahabat sahabat kita. Sebab, engkau telah menilai, bahwa warna yang menguas tubuh kita ini sejatinya adalah warna yang dipancarkan orang orang di ruang tempat kita berproses untuk mencapai sebuah titik dewasa.
Di sudut lain engkau sangat menyadari betapa banyak kekurangan kekurangan yang kau miliki. Betapa iklim ini telah membisikan ke telingamu bila selama ini kau baru berbuat untuk skala yang begitu minimal. Sekali lagi engkau harus jujur bila kelemahan humanis yang menganga di sekujur hidupmu itu adalah yang paling berperan terhadap segala yang telah menggeser posisi dudukmu. Meski pada aspek lain dirimu juga merasakan ada sebuah kerja yang begitu kreatif telah menentukan arah dari suatu keputusan yang kemudian hari mesti pula berbicara pelan pelan. Ada sepasang tangan abu abu yang begitu manis bermain di balik pintu tetapi itu semua tak apa karena sosok yang tualah (sebenarnya) yang paling berhak untuk menguasai seluk beluk handle kunci dari sebuah pintu. Ada nafas nafas sepuh yang kemudian berbisik lunak ke telinga yang sunyi dan lidah lidah yang manis tentunya memang sedang dibutuhkan untuk mengisi kelengkapan warna di republik yang belum selesai ini.

Tugasmu adalah mencatat banyak hal yang bisa  kau catat. Menuliskan segala yang mendorong begitu kuat di dalam dadamu untuk mengisahkan ragam peristiwa dan segala aspek yang menyentuh imajenasi ini. Selamat memasuki tahun yang baru, teman. Tentunya kita semua akan dihadapkan kembali pada segala sesuatu yang juga baru. Termasuk kebijakan kebijakan baru, strategi strategi yang baru, kalimat kalimat mengalir di mulut yang baru hingga lembar persaan bersembunyi di balik dada yang (tentunya) juga baru. (Salam R. Hamsyah)

Tidak ada komentar