HEADLINE

TANAH HIJAU_Sajak Riduan Hamsyah



Tanah hijau. Tempat koloni lumut menemukan kemerdekaan
matahari tak begitu jauh menjangkau
dan udara sudah pasti sejuk, bahkan dingin.

Bicara kemerdekaan, adakah itu di sebuah tepat yang sepi?
ketika kicau burung burung masih berani
bulir bulir embun bangun kesiangan, sementara kesejatian manusia ini
seperti menemukan semak sebenarnya.

Karena sekarang aku merasa sudah lebih tenang
lebih mengerti apa yang terjadi sebelumnya
pada diri orang orang panik
pada jiwa jiwa yang serampangan mengambil sejumlah keputusan

aku sudah bisa tersenyum kembali
setelah beberapa pekan terkekang
hampir terseret pada sakit yang lama, tetapi aku ingin melupakannya
mengubur ini pelan pelan dan mengatakan pada sebuah rencana
; ini akan kembali menjadi bagian yang ditinggalkan.

Percayalah, di tanah hijau itu, telah kucatat namamu
sejak jauh waktu
setelah bertahun-tahun tersesat dalam peradaban pasar
dalam liuk-liuk jalan dan tikungan
ada banyak yang datang dan tentu juga banyak pula yang hilang
terlupakan dari semak tujuan semula
di sebuah ranah tenang, bumi yang dingin, aku ingin memelihara alam
memelihara angin
memelihara embun dan angan ke dalam dirimu
hingga suatu masa kita akan sama sama memetiknya.

Kenapa kita sulit sekali berkata jujur
bahwa sebenarnya kita sangat merindukan semua itu?

Barangkali ini yang membuat aku dan dirimu lama tersesat
tertunda merayakan hari baik, jagad yang renyah dengan kalimat merdeka
oh, kalimat merdeka! Bukankan kita telah sepakat bila hanya dalam iklim ini
kita bisa menemukan kedinamisan hidup
usia yang berkah
juga kejayaan sebuah negeri sebenarnya

sebenarnya pula selama ini kita telah terjajah oleh diri kita sendiri
yang beberapa dekade telah bersekongkol dengan sebuah kalimat
"sulit"
hingga kukatakan pada 14 Januari lalu bila revolusi itu hanya bisa lahir
pada diri yang berani untuk melihat sesuatu, yang benar benar baru
lalu dengan panjang lebar telah kujelaskan pula kepadamu
bila jerat di sini mesti disudahi, sebelum kita dibinasakannya
dengan rayuan sebutir gula.

Banten, 16.01.2018

Tentang Penulis: Riduan Hamsyah, saat ini menulis puisi, artikel dan sejumlah ulasan untuk media online. Karya-karyanya juga pernah dimuat media cetak Seperti Majalah Sabili, Jurnal Asia, Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Media Kalimantan, Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin, Fajar Makasar, Harian Rakyat Sumbar, Palembang Ekspres, Simalaba, Harian Amanah, dll. Serta terdokumentasi dalam puluhan buku antologi yang terbit sejak tahun 2006 hingga saat ini.

Tidak ada komentar