HEADLINE

Lelaki Dan Rencana Rencana Busuknya


(Penulis: Riduan Hamsyah)

LELAKI DAN RENCANA RENCANA BUSUKNYA

Jika belum bicara soal politik maka dirimu belum disebut sebagai lelaki, kata seorang politikus, menunjuk batang hidungnya sendiri. Sekaligus menegaskan pembelaannya terhadap sesat prinsif prinsifnya. Tetapi aku bukan politikus, tentunya juga tak mengerti politik, apalagi urusan mobilisasi massa atau mengumpulkan koleksi suara.

Ini peradaban aneh, menurutku. Kenapa suara mesti dikumpulkan? Kenapa orang orang jadi pemimpin atau wakil rakyat itu, kok, mesti pake suara? Pake dukungan 'ke-pura-pura-an' semata. Kenapa posisi posisi tersebut didapat tidak menggunakan sistem lelang saja? Agar lebih terang bila ingin bermain uang.

Atas semua ini, lelaki, kemudian menyusun strategi, di luar rumah. Di luar hati nurani yang luluhlantak ditinggalkan. Sementara jasad tersisa dipenuhi rencana rencana busuk, karena tak ada politik yang tanpa siasat, entah itu jahat atau sedang pura pura baik. Lelaki yang lalu lalang membawa kebisingan di depanku tiap hari sesekali membawa sepasukan perempuan sebagai bunga-bunga panggung sebagai persembahan di atas altar pemujaan yang magis.

Sejumlah orang di zaman kekinian semakin bertingkah aneh, dan itu didominasi oleh kaum lelaki. Sementara perempuan perempuan menunggu giliran bicara sekaligus  menunggu giliran membela hak untuk rajin keluar rumah. Di luar rumah mereka juga bisa bertemu dengan banyak lelaki, memeriksa rencana rencana ganjil, menentukan sikap dengan siapa mesti kencan atau meng-atas namakan pendirian meski kolaborasi ini tetap saja tak senonoh sebab dari lelakilah bermula segala rencana.

Sejak dulu, aku tak suka politik, apalagi ketika menyaksikan orang orang 'sok' baik dengan nada bicara diindah-indahkan. Jagad ini bau sampah. Bau aroma kepura-puraan hingga udara berasa tak enak buat dihisap menjadi nafas. Hai, aku sendiri, ingin menjadi lelaki yang sekujur tubuh tumbuh cahaya sebagai penebus remang yang tak terduga. Jiwaku dibaluri rasa hangat dari cinta cinta perempuan yang wangi, kubiarkan mereka mencipta taman taman bunga atau lapangan tempat bermain lepas dengan udara. Berlari lari bebas. Mengejar kupu kupu. Menemukan keramaian yang selama ini hilang tersesat di perut ular. Aku ingin lebih tulus mengelus banyak perempuan yang datang pada hidupku. Mengatakan lebih jauh pada mereka tentang sebatang tubuh yang ingin selalu bernafas sebagai pucuk, tanpa rencana rencana busuk. Meski sebenarnya dadaku ini dipenuhi banyak sekali rencana, dan yang terbesar dari semua rencana itu adalah kalimat cinta, hingga kini belum sekalipun sempat kusampaikan pada siapa siapa.

Banten, 05.02.2019

Tidak ada komentar