HEADLINE

AKU TELAH MELUPAKANMU, HANDAYANI_(Puisi Riduan Hamsyah)


AKU TELAH MELUPAKANMU, HANDAYANI

Saat itu, kita curam
tubuhmu adalah ngarai
aku terkesiap, usai tertusuk
celah tebing
yang runcing, dilumat kepingan angin.

Tetapi engkau adalah sosok
paling bertanggung jawab
atas sesatnya imajenasiku, melanglang tualang
bahkan sesekali terlintas hasrat
untuk mengubah sayap ini
jadi kemudi
agar aku bisa menjauh darimu, sejauh lemparan batu

debar yang cukup sulit
kuatasi
di balik dada yang memang belum begitu lengkap
hakikat dari cinta
kini, Handayani, mengenangmu
adalah mengenang kalimat angin
meski sebenarnya aku pernah kehilangan.

Baturaja-Banten, 1995-2019


MUNGKIN KAU MASIH DI KOTA ITU

Kurasa, mungkin, engkau masih
berada di kota itu
menyiram tubuhmu dengan
bunga bunga kesilaman, melapalkan
nama nama
yang pernah singgah, yang pernah mengajakmu bicara
tentang banyak ikhwal

jujur, aku pernah menterjemahkanmu
sebagai kekasih
melumuri rasa kangenku ini
dengan hari hari sunyi. Tanpa dirimu, saat itu
aku serupa kapas pembalut luka-

ya, ini kali pertama, aku belajar
merasakan luka
merasakan detak berombak di ujung jantung
kemudian aku merasakan manusiaku
terampas
oleh kasmaran itu, Handayani.

Kukira, dirimu, masih di kota itu
menua, menjelma rabun hidup
meski aku tak pernah berpikir untuk pulang.

Baturaja-Banten, 1995-2019


AKU PERGI TERLALU JAUH

Aku pernah berkata, akan pergi darimu
untuk waktu yang lama

meninggalkan rencana rencana ganjil itu
meninggalkanmu sendirian
agar engkau leluasa meminang pilihan lain.

Aku, pergi kini, terlalu jauh darimu
bayangan tubuhku sirna
tak perlu kau periksa di balik dadamu
sebab jejak telah disembunyikan waktu.

Banten, 27.05.2019

TAK TERASA MALAM SUDAH PUDAR

Malam. Kini pudar
di sampingku.
Sesaat lalu, ia menyapa
sebelum diam
karena paham bila aku
sedang menulis sajak-

menulis hidup yang terdesak
setelah aku tak dapat bertahan lama
membawamu
terbang ke celah celah bintang.

Kita ini para pengunjung
dari sebuah rasa kasmaran yang terbakar
maka, lelaplah dalam liuk nafasmu
agar mimpi mimpi itu tiba di pemukimannya.

Banten, 27.05.2019

UNTUK SEBUAH SAJAK CINTA

Untuk sebuah sajak cinta
aku mengingatmu
mengajakmu bicara, dari hati ke hati

engkau, pernah membuatku mabuk
dan pernah mengutuk cuaca
yang kering di sepanjang jalan nafas kita.


Penulis: Riduan Hamsyah, tinggal di Banten. Menulis untuk sejumlah media massa.

Tidak ada komentar