HEADLINE

"KEMBUHUNG" (Sajak Riduan Hamsyah)

KEMBUHUNG

Lalat lalat mengamuk, menabrak pintu
tetapi engkau masih melanjutkan
ritual itu,
membelah balung serai
mengiris kunyit
tungdire
lengkuas dan cabi matah yang dicacah

meski bersaing di abad ini
dengan spageti, kebab, dada ayam
dibungkus terigu
tetapi engkau tetap menghargai ini
sebagai warisan dari leluhur
yang begitu melegenda di dada kita

tulang-tulang rawan di tubuhku
tersusun atas sejarah yang memanjang
gurindam kegelapan serta manik manik
bersemayam dalam nadi silsilah.

Entah kenapa, engkau yang bukan orang Semende
tiba tiba menggila-i itu hari ini
tercetus keinginanmu untuk membuka
lebar lebar hikayatku
dan, tentu, aku terkesima
ketika makan malam kita sebentar nanti
mesti dihantarkan suguhan spesial
mengantar imajiku pada relung kesilaman

maka, sejak aku menghentikan impian
sebagai penyajak
karena rasa hambar bergulung di lambung
berulang-ulang kuhembuskan
sebagai penantian yang senantiasa buyar, engkau
menyulutnya lagi dengan kata kata terbakar
di atas tungku kasmaran
dijerang api dan minyak panas
mengirimkan aroma asam yang menusuk hingga ke rusuk

telah kukatakan, akulah Semende itu, yang tak pernah malu malu menunjuk hidung
sebagai penikmat kembuhung. Aku begitu
riang membisikan ke telingamu
bahwa kisah kita terbangun dari setumpuk nasi
bersenyawa dengan potongan ikan ikan
terpendam pada sejumlah malam
lalu disembunyikan pada (geluk) berpenutup rapat
jauh dari peta pencarian bari bari juga kesumat
demi mempersiapkan sebuah rasa yang tak mungkin diterjemah lagi dengan kata kata.

Sajikanlah kepadaku
bersama ulam, bersama tahok bekayu
juga senyumu yang sumringah itu
melengkapi hikayat pujangge Semende
juga pencarian kita yang tak pernah berkesudahan, akan kuceritakan
kepadamu, selanjutnya, lebih jauh tentang kasam
tentang persenyawaan kita yang lebih tajam.

Banten, 09.06.2019

Penulis: Riduan Hamsyah, karya karya telah dipublikasikan di sejumlah media cetak dan online serta tergabung dalam puluhan buku antologi bersama dan tunggal. Buku kumpulan sajak terbarunya KITAB TUNGGUTUBANG (Perahu Litera 2017).

Tidak ada komentar