HEADLINE

BATU BEKHAK DAN PERCIKAN MANTRA MANTRA_(Sajak Riduan Hamsyah)


Hari ini, aku ingin mengatakan padamu
tentang
jejak di batu-batu
tentang roh roh melayang di ubun
tentang sesembahan dan percikan mantra
yang oleh mereka didaulat sebagai doa.

Ada rampak klumpok
menhir
dan andosid serta manik manik
yang telah hilang hikayatnya
dirampas orang orang kota
semua bersaksi tentang animisme mengepul
dari balik topeng topeng menghadap ke puncak bukit
juga jiwa jiwa hanyut dalam kepulan asap ritual sesembahan

tanah ini pernah mengubur semuanya
secara diam diam, lalu secara diam diam pula menetaskannya ke permukaan
sisa sisa tarian purba yang mengelana ke celah waktu.

Bulan-bulan pahit
tahun tahun hambar mengisahkan ini semua
sebelum datang sekelompok orang yang coba meraba raba
urat urat andosit serupa tangan kekar
yang pernah memahatnya, entah dengan apa
aku cuma selalu membayangkan bila tangan tangan itu
adalah tangan tangan terkuat di masa itu
sebelum aus dilumat cuaca dan punggung abung merasakan kehadiran mereka.

Itu sebab cuaca di sini
menusuk kulitmu
mengirimkan pesan tentang peradaban pohon-pohon yang bernyawa
tentang para leluhur yang hidup
dan senantiasa hinggap di tepi tepi kepala
maka untuk itu api diciptakan, membakar ranting-ranting yang kumpulkan
asapnya melesat ke udara sebagai doa

ya, tanah ini masih menyimpan aura itu
tiang-tiang kekinian yang ditancapkan jauh sebelum
kekinian itu dilahirkan
jauh sebelum segenggam keyakinan dibinasakan
bahkan jauh sebelum aroma dupa dipahami sebagai isyarat sesembahan.

Sudut Bumi, 30 Juni 2019

Penulis: Riduan Hamsyah, karya karya telah dipublikasikan di sejumlah media cetak dan online serta tergabung dalam puluhan buku antologi bersama dan tunggal. Buku kumpulan sajak terbarunya KITAB TUNGGUTUBANG (Perahu Litera 2017).

Tidak ada komentar