HEADLINE

KEPADA: PEMILIK PERAHU |Sajak Riduan Hamsyah|


Tuan, saya pesan perahumu. Untuk ke tengah mencari kerapu yang latah
atau kakap kakap terengah, sebab mata kailku sudah ngilu jadi pelarian beragam perasaan rindu, termasuk cinta, juga pura pura cinta.

Antar saya ke sebuah tempat lipatan ombak gemeretak. Gigi gigi cumi terkunci. Di sini senar saya turunkan mengelana ke celah karang atau jatuh di punggung palung. Tuan boleh lempar tali-tali jangkar, membiarkan saya memulai ritual perasaan.

Di kedalaman sana, sebenarnya, tidak semua tenggelam, Tuan. Termasuk janji janji manis kita pada perempuan yang menunggu di rumah, dengan harap harap cemas, dengan mata yang lemas. Di kedalaman sana bulir-bulir timah membentur karang menunggu sisik-sisik cahaya ada desau dan kecipak sehingga jagad sudah pasti ramai oleh tikai.

Di lambung perahumu saya memainkan selaksa perasaan. Menunggu denyar menjalar. Tetapi denyar di bawah sana bukan sesuatu yang membuat saya gemetaran di sini sementara hasrat melarung bergantian datang agar hidup lebih hikmat, mungkin. Dan, saya ingin selalu tamasya. Hingga ke laut dalam. Hingga ke daratan kelam. Hingga ke musim musim bertumpu pada nasib cuaca.

Tuan, bila telah sepakat, kita akan selalu bertemu untuk menentukan sikap masing masing juga siasat masing masing. Tuan sebagai tukang perahu tentu mengukur batas waktu sementara saya pemancing tak ingin cepat mendarat sebelum percintaan saya dengan ratu ratu kakap tersudahi sebelum denyut di balik dada saya lengkap bilangannya. Tuan juga jangan bicara bahwa dirumah, kita sama sama ada cinta perempuan yang terbengkalai di ranjang. Kita sedang melarung mimpi yang lain, tentunya ke sudut bumi yang lain.

(Penulis: Riduan Hamsyah. Sajak ini, karya ke-dua, dipersiapkan untuk buku YOGYAKARTA, JANGAN KAU ANGGAP AKU SEBAGAI TAMU. Insya Allah terbit 2020)

Tidak ada komentar